Musim Kemarau Datang Lebih Cepat

  • Bagikan
PERUBAHAN IKLIM :Awan menyelimuti langit Kota Kendari. Tahun ini, musim kemarau datang lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim kemarau memasuki wilayah Sultra Juni mendatang. Awan menyelimuti langit Kota Kendari. (MUHAMMAD ABDI ASMAUL AMRIN/KENDARI POS)
PERUBAHAN IKLIM :Awan menyelimuti langit Kota Kendari. Tahun ini, musim kemarau datang lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim kemarau memasuki wilayah Sultra Juni mendatang. Awan menyelimuti langit Kota Kendari. (MUHAMMAD ABDI ASMAUL AMRIN/KENDARI POS)

--Perubahan Iklim, Temperatur Udara Meningkat

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID - Musim kemarau tahun 2024 lebih cepat. Jika tahun-tahun sebelumnya, antara September dan Oktober. Tahun ini, musim kemarau sudah memasuki wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) pada periode Juni. Sementara puncak kemarau diprediksi akan terjadi pada Juli hingga September 2024.

Kepala Stasiun Klimatologi Sultra, Aris Yunatas mengatakan status El Nino diprediksi akan menjadi netral mulai Mei hingga Juli 2024. Yang mana, kondisi suhu muka laut perairan Indonesia masih dalam kategori hangat. Namun angin timuran diprediksi mulai aktif.

“Awal musim kemarau di wilayah Sultra paling awal terjadi pada Juni dan paling akhir Agustus. Jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun (1991-2020), awal musim kemarau 2024 Sultra umumnya mundur dari normalnya,” jelas Aris Yunatas saat pers rilis prakiraan musim kemarau wilayah Sutra tahun 2024 secara virtual, Jumat (22/3).

Dijelaskan, hujan selama musim kemarau 2024 Sultra diprakirakan di bawah normal (BN) dan di atas normal (AN). Untuk puncak musim kemarau 2024 Sultra diprakirakan berkisar pada bulan Juli-September 2024. Durasi musim kemarau 2024 diprakirakan antara 10- 12 dasarian atau lebih pendek.

“Meski demikian, masyarakat harus tetap waspada dan dapat terus memperhatikan informasi iklim dari BMKG. Mengingat hingga tiga bulan ke depan diprediksi curah hujan di wilayah Sultra masih dalam kategori rendah hingga tinggi,” ujarnya.

Deputi Bidang Klimatologi, Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan dampak perubahan iklim semakin mengkhawatirkan. Dari catatan BMKG tahun 2023, temperatur suhu alami peningkatan bahkan sampai memecahkan rekor baru. Kondisi ini perlu disikapi bersama karena dampak perubahan iklim semakin nyata.

“Pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, yang menjadi salah satu penyebabnya. Kami berharap, informasi yang diberikan dapat bermanfaat untuk meningkatkan langkah-langkah kesiapan menghadapi musim kemarau yang berpotensi lebih ekstrem di tahun 2024,” ujarnya. (c/rah)

  • Bagikan