Independent Study atau Liberate Learning

  • Bagikan
Hanna


(Dalam Literasi Memaknai Pendidikan)
Oleh : Hanna

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID -- The student fail on learning could be a lack of skill, lack of courage, a lack of commitment, and a lack of goals. When students procrastinate, they get overwhelmed. And when they get overwhelmed, they do mediocre work, making them fail. I often told my students that cramming isn't good.

Sepenggal statemen itu saya dapatkan dalam diskusi saat kami dalam bis pada kunjungan akademisi ke New York, Amerika Serikat, beberapa bulan lalu. Ceritanya, Ibu Zohra sang juru bahasa kami, berkata ia menyekolahkan anaknya di pondok pesantren (Ponpes) Isabet Academy di Levittown, Pennsylvania tidak jauh dari New York. Saya meminta untuk mempertemukan kami dengan pengelola pondok pesantren. Kami pun diterima sangat baik, dan dijamu makan siang ala Turki.

Yang membuat saya tertarik mengunjungi ponpes itu adalah New York adalah kota welcome terhadap kemajemukan. Zahro berkomentar bahwa keinginan menyekolahkan anaknya di Isabet Academy agar dapat belajar dilingkungan agama Islami.

Pertanyaan saya, betulkah di New York Amerika suatu negara yang semodern dan sesibuk itu masih mengurusi kemajemukan?. Pertanyaan saya terjawab, di sana tersimpan generasi muda dari 43 negara yang mau dan taat mempelajari agama Islam. Mereka dididik untuk tidak gagal karena mereka yakin bahwa kegagalan siswa dalam belajar dapat berupa kurangnya keterampilan, kurangnya keberanian, kurangnya komitmen, dan kurangnya tujuan.

Ketika siswa menunda-nunda, mereka kewalahan. Dan ketika mereka kewalahan, mereka melakukan pekerjaan biasa-biasa saja, membuat mereka gagal. "Saya sering memberi tahu murid-murid saya bahwa menjejalkan itu tidak baik," kata salah seorang guru.

Saya berdiksusi dengan beberapa guru tentang kekhawatiran saya atas kemungkinan kegagalan siswanya akibat pengaruh gempuran teknologi yang semakin maju dengan kondisi milinea seperti anak-anak di Idonesia. Mereka yakin bahwa "independent learning" merupakan jalan terbaik.

Istilah "independent learning" yang saya tangkap adalah merdeka belajar di Indonesia. Merdeka belajar memberikan kesempatan untuk memerdekakan peserta didik dalam kebebasan berpendapat bagi peserta didik. Artinya, guru tidak boleh menghakimi apabila terdapat kesalahan apa yang diungkapkan oleh peserta didik.

Peran guru dalam hal ini dibutuhkan sebagai penuntun jalannya proses pembelajaran sehingga apabila terdapat kesalahan maka dilakukan refleksi dan perbaikan serta evaluasi. Ini diharapkan agar tidak terjadi miskonsepsi sehingga peserta didik akan lebih mengingat apa yang ia ungkapkan dan diluruskan oleh gurunya sebagai suatu yang manusiawi.

Suatu kebenaran universal yang ada dalam pendidikan dan pengajaran sebagai proses memanusiakan anak didik sebagai manusia supaya ia sadar bahwa ia adalah manusia yang mampu dibentuk secara mandiri. Berpihak kepada peserta didik adalah pendidikan yang memfasilitasi kebutuhan peserta didik dimana peserta didik terdiri dari berbagai latar belakang karakteristik yang berbeda mulai dari ras suku agama, adat budaya, minat, motivasi, gaya belajar dan tingkat kecerdasannya.

Guru memihak kepada peserta didik agar bebas menentukan pembelajaran yang diinginkan namun tetap sejalan dengan tujuan pembelajaran nasional dan capaian pembelajaran yang telah ditentukan untuk mewujudkan amanah UUD 1945. Yang berbeda hanya cara dan metodenya saja, dan yang mungkin itulah pembelajaran berdiferensiasi.

Sekolah dikatakan sebagai tempat untuk pembelajar sepanjang hayat atau long life learner yang dapat menghadirkan perubahan. Mementingkan motivasi internal berupa kesenangan belajar untuk mengembangkan dan berkontribusi dan mengembangkan diri serta mandiri, hal ini tercantum dalam visi sekolah.

Pendidikan harus berorientasi pada kepentingan terbaik dan memanusiakan anak, hal ini dibutuhkan untuk sikap mandiri dan tidak bergantung orang lain. Bentuk pembelajaran di sekolah, anak terlibat aktif dalam proses belajar. Anak bukan hanya mendengarkan dan menuruti perintah dari guru, namun anak ikut menentukan tujuan, cara belajar, evaluasi mulai bertanya sampai merefleksi.

Cara belajar harus sesuai dan membuat mereka nyaman, sambil meyakini bahwa proses belajar sudah terjadi pada dirinya, sebagai suatu kesadaran kolektifitas untuk hidup mandiri dan merdeka dari tekanan agar bisa berkontribusi di masyarakat dimana ia berada sesuai peran kodrat dan jati dirinya. Tujuannya untuk menjadikan peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang bisa beradaptasi dengan perubahan dan menerapkan prinsip ketuhanan kemanusiaan kesetaraan dan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pendidikan yang memerdekakan adalah pendidikan yang membuat pembelajarannya tidak merasa terpaksa atas kurikulum yang berlaku, pembelajaran tidak harus di ruang kelas, pengajarnya pun bisa berasal dari masyarakat di luar yang memiliki wawasan di bidang pengetahuan tertentu.

Sekolah harus memenuhi kondisi lingkungan, sarana dan prasarana, digunakan sebagai pembelajaran. Dilibatkan juga masyarakat dan pemilik usaha. Peserta didik belajar di luar, di berbagai lokasi, melihat langsung kondisi pembelajaran. Peserta didik merdeka menentukan kegiatan belajar, mengambil keputusan, kelompok belajar dan ketua kelas.

Pendidikan yang memerdekakan adalah proses pendidikan yang meletakan unsur kebebasan anak didik untuk mengatur dirinya sendiri, bertumbuh dan berkembang menurut kodratnya secara lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, anak didik memperoleh kemerdekaan dalam pendidikan melalui pengajaran.

Di samping itu, anak didik memperoleh pendidikan yang memerdekakan secara batiniah diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan merupakan upaya untuk membina, menuntun “segala aspek” yang melekat pada kemanusiaan anak didik. Anak didik ingin mencapai manusia merdeka karena ia ingin memaknai eksistensinya sebagai manusia yang beradab (mandiri), tidak bergantung pada orang lain.

Untuk mewujudkan pendidikan yang memerdekakan tidak susah, yang susah jika guru masih berpikiran masa lalu. Sudah saatnya mengubah paradigma berpikir masa lalu terhadap peningkatan kualitas penanganan mutu pengajaran baik secara teoritis maupun secara praktis.

Sebenarnya inti pendidikan yang memerdekakan adalah bentuk pendidikan dan pengajaran yang meletakan kemandirian anak didik dan di dalamnya dimaknai pula kodrat rasional dan sekaligus memiliki kehendak bebas. Dalam proses pencarian dan pemaknaan ulang terhadap pendidikan dan pengajaran yang memerdekakan, peran pendidik dan anak didik dianalisis secara filosofis dengan metode-metode penelitian khas filsafat.

Hal yang khas dalam pembahasan dari pendidikan dan pengajaran yang memerdekakan adalah anak didik dan pendidik dilihat sebagai dasar keberadaan pendidikan yang manusiawi yang memanusiakan manusia yakni pendidikan yang berorientasi pada model pendidikan yang mengembangkan ruang bagi pengembangan dimensi kemanusiaan ke arah perwujudan tertinggi dari pengembangan tiap dimensi, ruang kebebasan, dan ruang bagi refleksi pribadi atau kelompok.

Pada keseluruhan refleksi kritis filosofis penulis terhadap pendidikan yang memerdekakan adalah pemaknaan lebih terhadap eksistensi manusia dalam keutuhan kodrat insani yaitu intelek, kehendak bebas serta makhluk sosial. Ketiga hal tersebut membentuknya untuk bertumbuh dan berkembang sebagai manusia mandiri, dan mampu memaknai eksistensinya dalam kehidupan sosial. (*)

Independent Study atau Liberate Learning

  • Bagikan

Exit mobile version