Mediamorfosis Kendari Pos

  • Bagikan
Anggoro Haris
Anggoro Haris

--Renungan Panjang Melawan Takdir

by: Anggoro Haris

Masa depan seringkali sulit diprediksi dengan baik oleh sebagian besar orang. Saya mengibaratkan, cara kita dalam memvisualisasi masa depan seperti menjelajahi Grand Line untuk menemukan one piece milik Gold Roger, seringkali terasa sulit dan penuh tantangan. Oleh karenanya, industri media perlu cekatan mengasimilasi sebuah ide, produk dan layanan baru dalam mengiringi dinamika realitas dan budaya.

Dalam konteks media komunikasi, koran misalnya, meskipun sulit mempersiapkan diri sepenuhnya dalam menghadapi disrupsi atau meramalkan bentuk-bentuk komunikasi dengan akurat sesuai dengan perkembangan zaman, kita dapat mulai melihat masa depan dengan lebih baik melalui pemahaman pola sejarah dan mekanisme perubahan seperti yang dikemukakan Roger Fidler di dalam Mediamorphosis: Understanding New Media.

Kita berutang pada imajinasi Fidler tentang apa yang tengah mendera industri media saat ini. Bahwa mediamorfosis memberikan konteks dalam memikirkan masa depan media, sebagai suatu hal yang dibutuhkan peranannya di masa datang, tidak hanya oleh praktisi media itu sendiri, tetapi juga bagi para sivitas akademika yang mengkaji jurnalisme dan masyarakat umum.

Kepingan puzzle terbesar bagi new media dalam dekade ini adalah kemunculan Internet of Things (IoT). Internet yang pada awal kehadirannya mahal dan rumit diakses, yang secara artistik masih primitif dan penuh distraksi (bahkan hingga sekarang), secara langsung memberikan kesempatan akan informasi yang setara kepada mereka yang tidak memiliki frekuensi radio, TV dan mesin cetak.

Internet telah memangkas "barrier to entry" ke dalam industri media. Dibanding dulu, membangun perusahaan media butuh rentang birokrasi yang panjang dan biaya mahal, kini hanya dengan biaya relatif murah dan kecerdikkan melobi, internet mengantar kita dengan mudah ke dalam jaringan industri media dengan kecepatan peluncuran informasi (berita) hingga terdistribusi secara internasional.

Internet telah melahirkan beragam platform media komunikasi, yang secara langsung mengubah panorama jurnalisme, mulai dari proses mengumpulkan, membuat sampai menyebarkan berita. Realitas ini seumpama kehadiran super villain Thanos dalam semesta Marvel, inevitable. Bahwa transisi ke dalam culture digital menjadi kenyataan yang tak terhindarkan bagi media cetak (koran), sekaligus membawa pesan senja kala.

Namun, di tengah kepungan pesimisme publik akan hela napas panjang media cetak, segenap Kendari Pos di bawah komando pimpinan yang visioner, kerap menyusun prediksi dan merancang berbagai skenario agar Kendari Pos menjadi media yang futuristik.

Sepak terjang 28 tahun menjaga eksistensi adalah proses mediamorfosis yang membawa sekelumit tantangan internal dan eksternal. Proses ini adalah bentang panjang berpadunya berbagai serpihan pikiran dan visi seluruh jajaran Kendari Pos yang mengikrarkan diri ingin hidup seribu tahun lagi agar tetap menjadi koheren dengan peradaban mayantara.

Foto Bersama Direksi dan Karyawan Kendari Pos

--Mediamorfosis

Bagi Kendari Pos, proses mediamorfosis adalah keniscayaan. Langkah transformatif ini timbul akibat kian kompleksnya kebutuhan publik akan informasi, kuatnya tekanan persaingan dalam bisnis media, serta sebagai inovasi dari perkembangan teknologi.

Dalam perspektif Fidler, proses metamorfosis sebuah media akan melewati tiga tahapan. Pertama ialah koevolusi. Bahwa karakter utama media diejawantahkan ke dalam bahasa, baik lisan maupun tulisan. Kemudian evolusi dalam komunikasi terjadi secara radikal ketika muncul bahasa digital yang menjadi basis lingua franca jaringan telekomunikasi. Dengan kata lain, ada hubungan yang dinamis antara teknologi yang berkembang dengan konten yang disajikan.

Dalam proses koevolusi, perubahan teknologi memungkinkan perkembangan baru dalam konten media. Begitupun sebaliknya, perkembangan konten dapat mendorong inovasi untuk menghadirkan teknologi baru. Dua aspek ini berjalan beriringan dan saling tukar tambah pengaruh.

Koran Kendari Pos yang notabene adalah printing media, yang melebarkan bisnis ke jaringan media digital (KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID, kendarinews.com, ragamkendari.com) adalah proses koevolusi yang bertujuan menyajikan konten berita yang interaktif, aplikatif, social media oriented, serta real time lewat portal online.

Proses kedua adalah konvergensi. Kendari Pos menjadi satu-satunya media yang mengusung konsep konvergensi di Sulawesi Tenggara. Kendari Pos merefleksikan perpaduan antara berbagai media dan fungsi yang sebelumnya terpisah menjadi satu entitas yang lebih serbaguna, atau meminjam satu istilah yang populer di dapur redaksi Kendari Pos, yaitu "multitalenan", sebagai insinuasi seseorang yang memiliki banyak talenta.

Dari beberapa dimensi konvergensi, Kendari Pos mengadopsi konvergensi media. Ini membuat berbagai jenis konten, seperti teks, gambar, suara dan video, akan muncul di semua kanal Kendari Pos. Jika Anda tampil di podcast KP Channel, Anda dapat menjadi headline di koran cetak dan dukungan konten visual berupa foto-foto dirubrikasi khusus. Konten video podcast juga dapat diakses dan dikonsumsi dalam satu situs web (platform berita online).

Konsep konvergensi media Kendari Pos menghasilkan lingkungan yang terintegrasi dan multiguna bagi konsumen dan pelaku industri media. Henry Jenkins, profesor komunikasi University of South California menyebut konvergensi sebagai an ongoing process, atau rangkaian persimpangan dari sistem media yang berbeda-beda, bukan suatu pola hubungan yang pasti. Pada momentum ini, di penghujung dasawarsa ketiganya, Kendari Pos berada di persimpangan itu, sekaligus mengantarnya pada pintu gerbang memasuki tahapan akhir dari proses mediamorfosis, yaitu complexity, bahwa konvergensi merupakan proses dinamis, bentuk kontemplatif sebuah media sebelum menemukan maujudnya yang ideal.

Complexity menyebabkan ekosistem media makin kompleks, utamanya dalam hal struktur, interaksi dan dinamika. Poin penting dalam tahap ini adalah kemajuan teknologi itu sendiri, seperti pengembangan algoritma pencarian, artificial intelligence, teknologi jaringan yang lebih tinggi, diversifikasi platform (situs web, medsos, aplikasi chat, video stream, dll) menambah kompleksitas dalam berinterkasi dengan berbagai jenis konten.

Selanjutnya yang memberi kontribusi dalam kompleksitas adalah penggunaan data dan analitik dalam media untuk memahami pola perilaku user, guna menyajikan konten segmentatif, iklan yang terukur dan menghadirkan pengalaman yang lebih personal.
Kemajuan teknologi juga menambah kompleksitas pada isu-isu privasi data, cyber security, yang membutuhkan personalisasi pada regulasi. Begitupun interkoneksi global, akan menghasilkan dinamika yang kompleks, karena peristiwa disatu tempat dapat menjadi pemicu peristiwa serupa di tempat lain. Hal ini tentu mendorong partisipasi publik semakin aktif dan membutuhkan kemampuan khusus dalam mengakomodir segala perspektif beragam yang muncul.

Tahapan ini, menghadirkan tantangan yang jauh lebih rumit bagi individu, masyarakat dan tentu pers itu sendiri.
Pada momentum September ceria yang lalu, di usia ke 28 tahun, selain berselebrasi dengan menganugerahkan Kendari Pos Award kepada sejumlah tokoh yang menjadi lokomotif perubahan, ada banyak harapan dan doa kami haturkan. Semoga Kendari Pos terus memelihara filosofi dasarnya menjadi media yang santun dan menginspirasi.

Demi merenungi perjalanan panjang ini, di usia yang terbilang matang dan dewasa, Kendari Pos tak perlu lagi bersikukuh untuk menjadi nomor satu. Tak sekadar memberita, menyajikan larik larik informasi yang membentuk rasionalitas publik, tetapi harus go beyond the limit, mengambil peran yang jauh lebih besar dengan membentuk komunitas sosial yang berperadaban, merangkum gagasan dan membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat.

Jika harus mencermati perjalanan ke belakang dan ramainya percakapan yang membincang kelangsungan hidup koran, saya menilai Kendari Pos berpegang pada prinsip Stockdale Paradox sebagai bentuk pendekatan mental yang efektif menghadapi situasi saat ini yang sulit. Menurut Stockdale, dalam situasi krisis, yang pertama mati adalah mereka yang punya harapan, baru setelah itu, yang pesimis akan mati. Stockdale menyarankan untuk berpegang teguh pada dua hal itu. Satu sisi memiliki keyakinan untuk survive, tetapi disaat bersamaan harus terbuka pada realita, harus siap terhadap kemungkinan brutal yang terjadi.

Ini mengajarkan kita bertindak bijaksana menerima takdir. Agar tidak hanya menjadi optimis, tetapi juga realistis dan berpikir jangka panjang. Dengan kombinasi kepercayaan yang kuat dan keterbukaan terhadap kenyataan, kita dapat menghadapi tantangan dengan tekad dan ketangguhan yang diperlukan untuk berhasil melewati krisis dan mencapai tujuan. Pada kondisi inilah, keajaiban mungkin saja terjadi.

Oleh karena itu, Kendari Pos harus memperkuat segala lini, khususnya keredaksian yang menjadi inti jantung dari proses jurnalisme dalam merekam denyut nadi realitas. Semoga Kendari Pos menjadi ladang subur bertumbuhnya tunas-tunas jurnalis muda profesional dan berintegritas seumpama rasul yang mengabarkan kebenaran.

Semoga Kendari Pos tetap menjadi rumah yang nyaman bagi nurani jurnalisme. Tabe.(*)

  • Bagikan

Exit mobile version