La Bakry Perjuangkan Peningkatan Kapasitas Pelabuhan

  • Bagikan
Bupati Buton La Bakry (empat dari kiri) saat penyerahan SK Rencana Induk Pelabuhan (RIP) dari Kementerian Perhubungan RI, baru-baru ini.


Pelabuhan Menopang Aspal Buton ke Level Nasional

KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID -- Pelabuhan menjadi salah satu instrumen menakar kemajuan sebuah daerah. Pelabuhan yang luas, ramai kapal berlabuh, dan intensitas angkutan yang tinggi menjadi ciri daerah berkembang. Itulah yang terus diperjuangkan Bupati Buton, La Bakry untuk memajukan daerah melalui peningkatan kapasitas pelabuhan.

Bupati Buton La Bakry mengatakan pemanfaatan aspal Buton secara nasional membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai. Salah satunya pelabuhan evakuasi aspal keluar daerah. Pelabuhan Lawele dirancang untuk itu. Jika selama ini aspal dari Kabungka dan Lawele harus diangkut ke ibu kota kabupaten untuk dikapalkan.

"Nah kalau pelabuhan Lawele sudah jadi maka tidak lagi harus melalui Pasarwajo, tetapi langsung diangkut keluar melalui pelabuhan Lawele. Sebab, Pasarwajo itu wilayah ibu kota. Kendaraan tambang tidak boleh memasuki wilayah ibu kota kabupaten," ujar Bupati La Bakry kepada Kendari Pos, kemarin.

Pelabuhan Lawele akan dibangun lebih luas dan memanjang, sehingga kapal tidak perlu lagi antre dan bisa di akses oleh kapal-kapal sesuai standar pengangkut aspal. "Ini butuh doa dan dukungan semua pihak, kita masih terus berbuat," ungkap Bupati Buton La Bakry.

Selain pelabuhan tambang, La Bakry juga mendorong peningkatan kapasitas pelabuhan penumpang yakni Pelabuhan Lasalimu dan Pelabuhan Banabungi. Pelabuhan Lasalimu adalah pelabuhan penghubung antara Buton dan Wakatobi melalui kapal kayu dan kapal besi. Sementara Pelabuhan Banabungi penghubung Pasarwajo-Baubau dan Wakatobi melalui kapal cepat.

Menurut dia, kapasitas pelabuhan Lasalimu terus meningkat, sehingga pelayanan juga semakin baik. Demikian juga dengan pelabuhan Banabungi yang kini sudah aktif setiap hari setelah beroperasinya kapal cepat Pasarwajo-Wakatobi. "Alhamdulillah sarananya terus meningkat. Sehingga koneksi dengan Wakatobi bisa semakin mudah, kepercayaan diri masyarakat juga bisa meningkat dan banyak sekali manfaat dari ini," tutur Bupati La Bakry.

Perjuangan Bupati La Bakry itu mulai menemui titik terang. Belum lama ini, Bupati La Bakry menandatangani Surat Keputusan Rancangan Induk Pelabuhan (RIP) Pelabuhan Lawele dan Pelabuhan Lasalimu di Kantor Kesyahbandaraaan dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Baubau. Surat itu menegaskan dukungan Kementerian Perhubungan untuk pengembangan lingkungan strategis di bidang kepelabuhanan di dua wilayah tersebut.

Bupati Buton La Bakry mengatakan penerbitan RIP tidak mudah. Ada proses panjang dan koordinasi berkelanjutan yang harus dibangun. "Berkat koordinasi yang baik, ini bisa terealisasi," kata Bupati La Bakry.

Sementara itu, Kepala KSOP Kelas II Baubau, Jasra Yuzi Irawan menyampaikan untuk studi pelabuhan Indonesia sangat terbatas. “Dari 15 studi kita mendapat dua studi untuk Kabupaten Buton. Ini adalah hasil dari membina hubungan baik dengan kementerian dan pemerintah daerah Buton,” ujarnya.

Jasra Yuzi Irawan menjelaskan terdapat perbedaan untuk pelabuhan Lawele dan Lasalimu. Pelabuhan Lawele adalah aset Kementerian Perhubungan sedangkan pelabuhan Lasalimu adalah aset pemerintah daerah. Jadi potensi daerah yang ada di Kabupaten Buton bisa ditingkatkan dengan adanya pelabuhan.

"Status pelabuhan Lawele dan Lasalimu adalah pelabuhan pengumpan lokal yakni SK tersebut dari Menteri Perhubungan dan disahkan oleh Bupati," tutur Kepala KSOP.

Sebagai informasi Pelabuhan Pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas, merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang atau barang serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalam provinsi. (lyn/b)

  • Bagikan