Banjir dan Longsor Landa Tiga Daerah Sultra – Kendari Pos Online
Iklan DPRD Koni Sultra
Bau-bau

Banjir dan Longsor Landa Tiga Daerah Sultra

Salah wilayah di Kota Baubau yang terkena banjir.

KENDARIPOS.CO.ID — Selama beberapa pekan terakhir, curah hujan terus mengguyur wilayah Kabupaten Buton Selatan (Busel), Kota Baubau dan Kabupaten Buton. Hujan terus terjadi sejak malam hingga siang hari. Akibatnya, sejumlah kawasan pada tiga daerah tersebut mengalami bencana banjir dan tanah longsor. Di Kabupaten Busel misalnya, selama dua hari terakhir, aktivitas masyarakat Lingkungan Mambulu, Kelurahan Jaya Bakti, Kecamatan Sampolawa, lumpuh. Banjir bandang  melanda wilayah tersebut, akibat luapan Sungai Todombul Gunung Sejuk. Seluruh jalan dan rumah warga terendam. Bahkan, akibat derasnya terpaan arus sungai mengakibatkan sejumlah kios ikut hanyut.

“Banjir terus melanda Kelurahan Jaya Bakti Kecamatan Sampolawa. Tercatat, selama dua hari terakhir ada sekitar 39 rumah warga yang terendam. Terbaru (hari ini) ada 19 unit rumah yang kembali dilanda banjir dan enam diantaranya  rusak. Sementara enam kios tempat warga berjualan, hanyut tak tersisa,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Busel, La Ode Harwanto saat dihubungi via selulernya, Senin (12/6).

Bencana banjir yang melanda Kecamatan Sampolwa, Busel itu, bukan tanpa sebab. Puluhan hektar hutan jati Sampolawa yang dulunya berdiri tegak sejak beberapa tahun lalu sudah ditebang.  “Hutan jati yang selama ini sebagai resapan air sudah tidak ada lagi. Hutan di Sampolawa itu sudah gundul. Makanya, debit air hujan seluruhnya mengarah ke Sungai Todombul Gunung Sejuk. Karena sudah tidak bisa tertampung, akhirnya air meluap hingga ke jalan raya dan merendam pemukiman warga,” terang La Ode Harwanto.

Selain banjir, lanjut dia, bencana tanah longsor juga menimpa sejumlah ruas jalan yang ada dibeberapa desa di Busel. Mulai dari Watiginanda, Desa Bangun dan Desa Pogalampa. “Materialnya sementara kita bersihkan sembari terus menyusuri jalan. Karena guyuran hujan selama beberapa pekan terakhir masih memungkinkan jalan lain juga tertimbun longsor,” jelasnya.

Saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Busel telah melakukan kordinasi lintas sektoral, agar bersama-sama turun memberikan bantuan kepada warga. Dibawa komado langsung Bupati Buton Selatan, Agus Feisal Hidayat seluruh Dinas terkait mulai dari BPBD, PU, Dinsos, Dinkes dan Dishub turun bersama di lokasi. “Tidak ada korban jiwa. Semua hanya berupa kerugian materi. Akibat rumah yang terendam dan kios yang hanyut terbawa arus,” pungkasnya.

Kondisi yang sama juga terjadi pada sejumlah titik di Kabupaten Buton. Bencana banjir dan tanah longsor juga melanda daerah itu. Seperti di jalur pendakian Desa Wolowa yang menghubungkan Kecamatan Wolowa Baru dan Pasarwajo. Ruas jalan tertimbun meterial tanah dan pepohonan. Sehingga, mengakibatkan arus lalulintas terputus selama beberapa jam. Kemudian, ruas jalan di Desa Kaongkeongkea dan Kelurahan Wakoko Kecamatan Pasarwajo, juga longsor. “Seluruh matetial tanah menimbun jalan. Makanya, kita berupaya bersihkan. Sebagian sudah tuntas, sementara sisanya lagi sementara dibersihkan dengan menggunakan alat berat dari Dinas PU Buton,” kata Kepala BPBD Kabupaten Buton, Joni Rasyid.

Dari kejadian bencana itu, lanjut Joni, yang tidak kalah parah dan meresahkan warga adalah bencana banjir yang merendam dua desa di Kabupaten Buton yaitu, Lasimbangi dan Mantau. Ada sekitar 30 unit rumah warga terendam. “Rata-rata ketinggian air mencapai satu meter. Bahkan, karena hujan terus turun dan debit air bertambah maka ada 10 Kepala Keluarga (KK) terjebak dalam rumahnya. Beruntung tidak sampai terjadi korban jiwa,” katanya.

Sementara itu di Kelurahan Wadiabuku, lingkungan Pajalele, Kota Baubau pun kembali dilanda banjir. Tidak hanya lokasi persawahan, beberapa rumah warga juga sudah terendam. “Beberapa warga panik. Sudah ada enam unit rumah terendam banjir. Makanya kita terus stand by dilokasi untuk melakukan evakuasi, jika sewaktu-waktu sudah emergensi,” kata Kepala BPBD Kota Baubau, La Ode Muslimin Hibali saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Penyebab bencana banjir tersebut, lanjut dia, karena hutan yang menjadi serapan air sudah gundul. “Salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Waliabuku itu, hutannya sudah tidak ada. Itu akibat aktivitas PT BIS tanpa melakukan reboisasi. Ditambah lagi, kawasan hutan konservasi yang ada di sana (Kelurahan Waliabuku) sudah mulai dirambah warga dan dijadikan lokasi perkebunan,” tuding Muslimin. (b/ahi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
To Top