Terima Peserta Didik 2017, Sultra Terapkan Sistem Zonasi Sekolah – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
Zetizen Iklan Iklan 10 Iklan 23
Edukasi

Terima Peserta Didik 2017, Sultra Terapkan Sistem Zonasi Sekolah

Suasana pendaftaran peserta didik baru tahun lalu di SMKN 1 Kendari. Dok/KP

kendaripos.fajar.co.id — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra akan menerapkan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2017/2018. Artinya, sekolah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah atau satu wilayah dengan sekolah. Hal itu telah diatur dengan Permendikbud Nomor 17/2017 tentang PPDB.

Kadis Dikbud Sultra, Drs. H. Damsid, M.Si., menjelaskan, pemerintah pusat mewajibkan semua sekolah untuk menerapkan sistem zonasi dalam menggelar PPDB 2017. Sudah ada pembagiaanya, pemerintah provinsi mengawal PPDB untuk jenjang SMA/SMK sederajat, sedangkan pemerintah kota/kabupaten mengawasi pelaksanaan pada jenjang SD/SMP sederajat.

“Syarat utama sistem zonasi adalah jarak tempat tinggal siswa ke sekolah tujuan. Apabila sistem zona telah diterapkan, maka tidak boleh ada siswa didalam zona tersebut yang tidak diterima, apapun alasannya. Untuk jenjang SMA/SMK sederajat sudah ditetapkan menggunakan sistem itu. Sedangkan SD dan SMP sederajat tergantung pemerintah kota/kabupaten, sebab kepadatan penduduk setiap daerah berbeda-beda. Akan tetapi, sistem ini harus tetap diperhatikan dengan sebaik mungkin,” terangnya.

Damsid menegaskan, sistem zonasi untuk menghilangkan predikat sekolah favorit dan tidak favorit serta penumpukan siswa di sekolah tertentu. Hal itu menyebabkan sekolah-sekolah tertentu kekurangan siswa. “Semua sekolah sekarang favorit. Semua harus dikembangkan secara bersama-sama agar kualitas pendidikan merata tanpa ada diskriminasi,” ujarnya.

Mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Halu Oleo (FISIP-UHO) itu, menambahkan bahwa jika ada sekolah menggunakan penilaian akademik sebagai syarat kelulusan PPDB, maka sekolah tersebut wajib menyiapkan kuota sebesar 20 persen untuk siswa yang tidak terseleksi dengan metode akademik. Dalam hal ini, kuota tersebut merupakan siswa mempunyai zona tempat tinggal yang dekat dengan sekolah yang bersangkutan.

“SMA/SMK sederajat yang berpatok pada nilai akademik, maka 20 persen kuotanya harus disisahkan untuk mengakomodir anak-anak yang ada disekitar sekolah itu. Sebab bersaing secara akademik tidak bisa sehingga Sehingga dikasih kesempatan dengan sistem lain,” bebernya.

Masih lanjut dia, syarat tambahan setelah zonasi adalah nilai Ujian Nasional (UN). Selain itu, sekolah juga mesti memperhatikan kuota berdasarkan kapasitasnya masing-masing. Setiap rombel berisi maksimal 36 orang untuk jenjang SMA/SMK sederajat. Begitupun dengan jenjang SD dan SMP mengikuti kuota yang ditetapkan. “Penerimaan tidak boleh melewati ketentuan itu. Namun misalkan antusias masyarakat tinggi, kita bisa perbesar kelasnya dari 36 sampai 40 orang per kelas,” bebernya.

Dia pun berharap PPDB dapat berjalan secara objektif, akuntabel, transparan dan tanpa diskriminasi sehingga mendorong peningkatan akses layanan pendidikan. Sementara itu, Sekretaris PPDB Dikbud Sultra, Sulistyawati Talanipa, M.Si., menambahkan, untuk PPDB SMA/SMK sederajat akan dimulai 19 s/d 22 Juni mendatang sesuai dengan kalender pendidikan, dengan menggunakan sistem online. Kata dia, pihaknya sudah bekerja sama dengan penyedia jasa online yaitu Indonesia bermutu. “Tim kami sudah mulai turun lakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah bekerjasama dengan ketua Musyawarah Keja Kepala Sekolah (MKKS),” tambahnya.

Sistem online, lanjutnya, tidak berlaku secara paten sebab tidak bisa dipastikan tanpa ada gangguan jaringan internet. Olehkarena itu, tetap juga menyediakan pendaftaran offline. Utamanya, sekolah-sekolah yang ada dipedalaman dan belum memiliki jaringan internet. “Mereka akan disiapkan aplikasi excel untuk pendataannya tetap diapload secara online. Kita juga tidak bisa paksakan harus semua online, namun tetap dibantu dengan luring/offline. Makanya, operator pada masing-masing sekolah mesti siap,” ucapnya.

Untuk diketahui, masih ada syarat normatif lainnya dalam penerimaan PPDB. Misalnya, usia yang tercantum dalam akta kelahiran, Surat Keterangan Lulus (SKL) serta syarat lainnya. “Setiap jenjang kategori berbeda, seperi SD maksimal 7 tahun, SMP maksimal 15 tahun dan SMA maksimal 21 tahun. Sistem penjaringan melalui sistem rangking kecuali SMK ada tes sesuai dengan keahlian masing-masing,” pungkasnya. (ima/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top