Ingat Ayah di Senam Puasa, Oleh : Dahlan Iskan – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
Kolom

Ingat Ayah di Senam Puasa, Oleh : Dahlan Iskan

Dibulan puasa ini peserta senam saya menurun drastis. Dari 50 tinggal 15 orang. Untung saya tidak memungut bayaran. Tidak perlu takut pendapatan turun. Mengapa saya tetap berolahraga? Di bulan puasa? Setiap pagi? Satu jam lebih? Jelas. Saya ingin tetap sehat. Di samping ingin naik pangkat: hahaha …. jadi pelatih. Sudah 8 tahun tiap hari senam di Monas, Jakarta, tidak pernah naik pangkat.

Selama terkena perkara, saya harus tinggal di Surabaya. Mau senam di mana? Banyak senam di Surabaya, tapi aerobik. Atau pilates. Atau freeletics. Terlalu muda untuk orang berumur 66 tahun. Mau senam Dahlan Style, begitu teman-teman menamai senam Monas, tidak ada temannya. Maka saya putuskan bikin senam Monas cabang Surabaya. Saya angkat diri saya sendiri jadi pelatihnya.

Beberapa teman lama bisa saya ancam untuk pura-pura jadi peserta. Lalu tergiur. Jadi peserta beneran. Kian lama kian banyak. Asyik. Yang berjilbab pun kini bisa dansa Xiao Ping Guo. Atau Mambo Number Five. Atau Cha Cha Badansa. Dan banyak lagi. Yang muda-muda sudah bisa lebih lincah daripada saya. Bahkan saya sudah melantik lima di antara mereka, lima dara cantik, sebagai pelatih baru. Kian seru. Kian asyik. Entahlah, apakah juga kian sehat.

Ancaman penyakit memang masih terus mengintai saya. Saya harus atasi itu. Saya tidak boleh takluk. Tidak boleh jatuh sakit. Kekebalan tubuh saya memang diturunkan. Secara sengaja. Agar hati baru saya bisa tetap kerasan di tubuh saya. Menggantikan hati lama yang penuh kanker 10 tahun lalu. Saya harus jaga kesehatan melebihi orang normal. Tidak takut batal puasa? Karena kehausan? Karena kelelahan? Saya punya obatnya. Sangat manjur. Namanya: Moh. Iskan. Ayah saya. Almarhum.

Bayangan masa kecil tentang ayah terus hidup sampai saya tua. Di bulan puasa pun ayah pergi ke sawah. Mencangkul. Selama empat jam. Biarpun panas sudah terik. Menembus punggung hitam yang tanpa baju. Yang memperlihatkan tulang-tulangnya yang menonjol.

Sesekali ayah menegakkan punggungnya. Agar tidak pegal-pegal. Sesekali juga ayah membasahi celana kombor hitamnya yang sampai bawah lutut itu. Dengan air lumpur di sela-sela cangkulnya. Agar badan terasa lebih dingin. Sesekali lainnya ayah tampak mengencangkan kolornya. Agar celana kombornya tetap menempel di perutnya yang kian siang kian tipis.

Sebelum puasa saya sering mengirim singkong rebus ke sawah untuk sarapannya. Dalam bulan puasa tidak ada lagi sarapan. Saya mendampingi dari jauh. Sambil membuat mainan. Membuat wayang dari tangkai bunga rumput. Lalu memainkannya dengan iringan gamelan dari mulut sendiri.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top