Kisah Korban Luka Bom Kampung Melayu..Terkapar, Ditolong Tapi Ditinggal Kabur – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Nasional

Kisah Korban Luka Bom Kampung Melayu..Terkapar, Ditolong Tapi Ditinggal Kabur

Bripka Yogi Aryo Yudistiro mengalami luka mulai kaki sampai pelipis. Korban lain sampai merasa trauma untuk naik Transjakarta. Begini kesaksian mereka saat terjadi ledakan bom di Kampung Melayu, Rabu (24/5)  malam.

Juneka Mufid-Andra Oktaviani, Jakarta

Saat dipindah dari ruang operasi ke ICU (intensive care unit) kemarin (26/5), Yuli Hari Utomo baru tahu betapa parahnya luka-luka sang anak, Yogi Aryo Yudistiro. Tangan kirinya patah. Begitu pula jari manis kiri dan kaki kirinya. Daging jari kelingking hilang 1,5 cm.

Pria 51 tahun itu semula melihat sang anak hanya mengalami luka di pelipis kiri dan telinga. Tapi, saat pemindahan ke ICU itu pula dia tahu ada serpihan logam putih yang dia duga sebagai timah. Logam yang berlumuran darah seukuran tiga jari itu sudah melengkung hampir kayak keong.

Yogi, polisi berpangkat bripda, adalah salah seorang korban ledakan bom di halte Transjakarta Kampung Melayu pada Rabu malam (24/5). Dia selamat, tapi mengalami luka parah sehingga harus dirawat di ICU. Di rumah sakit itu, ada tiga korban selamat yang lain, yakni Jihan Thalib (mahasiswi Universitas Azzahra Jatinegara), Ferri Nurcahyo (anggota polisi), dan Nugroho Agung Laksono (sopir Kopaja S612).

Yang menguatkan dia dan sang istri, Puji Kusraety, Yogi masih bisa menjawab pertanyaan dokter saat di ruang operasi. Itulah yang membuat dia yakin Yogi bakal pulih. Dan, kemarin, meski masih dirawat di ICU, kondisi Yogi memang terus membaik. Dia sudah bisa menghabiskan separo mangkuk bubur. Sudah bisa pula meminta minum kepada sang ibu.

“Dia cerita kalau ledakan pertama sempat diangkat (orang untuk diselamatkan). Tapi, pas ada ledakan kedua, ditinggal lari (oleh yang akan mengangkat),’’ ujar pria yang bekerja di Kantor Imigrasi Depok itu. Memang ada dua ledakan pada Rabu malam itu, dengan selisih sekitar 5 menit. Jarak lokasi pertama dan kedua pun cuma sekitar 10 meter. Tragedi tersebut menewaskan tiga personel polisi dan kedua pelaku.

Yogi adalah anak pertama di antara tiga bersaudara. Menurut Yuli, sejak kecil anaknya yang bertinggi badan 182 cm itu memang bercita-cita menjadi polisi. “Anaknya ini masih polos. Sehari-hari masih suka main hape (telepon seluler) saja,’’ ujar Yuli.

Lewat telepon seluler pula Yogi terakhir berkabar kepada sang bapak sekitar lima jam sebelum ledakan bom. “Dia kasih tahu dapat tugas mendadak ke Kampung Melayu. Mengawal kirab jelang Ramadan,’’ ujar Yuli.

1 of 3

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top