Harga Sembako Mulai Naik di Sultra, Disperindag Diminta Galakkan Pasar Murah – Kendari Pos Online
Iklan DPRD Koni Sultra
Ekonomi & Bisnis

Harga Sembako Mulai Naik di Sultra, Disperindag Diminta Galakkan Pasar Murah

Penjual cabe di Pasar Mandonga.

KENDARIPOS.CO.ID  — Tiga hari jelang ramadan, harga sembako di sejumlah pasar mulai naik. Bukan hanya di Kota Kendari, tapi juga semua kabupaten di Sultra mengalami hal serupa. Paling “ekstrim” terjadi pada komoditi bawang putih yang kenaikannya sampai 50 persen.

Hal ini berdasarkan pantauan harga disejumlah pasar di Kota Kendari, Selasa (23/5). Di Pasar Sentral Kota misalnya, pekan lalu harga bawang putih sebesar Rp 30 ribu perkilogram, tapi kini harganya menjadi Rp 65 ribu tiap kilonya. Di Pasar Basah Mall Mandonga juga begitu. Sebelumnya, harga bawang putih Rp 30 ribu perkilogram, kini naik menjadi Rp 60 ribu.

Di Kolaka Utara juga begitu. Normalnya, harga bawang putih Rp 50 ribu perkilo, tapi kini naik menjadi Rp 58 ribu. Kolaka juga naik, dari Rp 55 ribu kini Rp 60 ribu perkilonya. Masih untuk komoditi yang sama, di Konut juga mengalami kenaikan drastis. Sebelumnya Rp 45 ribu perkilogram, sekarang jadi Rp 60 ribu/kg. Untuk komoditi lainnya, bisa lihat grafis.

“Kenaikan harga sembako ini sudah dua hari terakhir. Kami juga tidak tahu karena saat dibawakan sudah naik juga harganya,” ungkap Wa Ode Muhu, pedagang sembako di Pasar Sentral Kota, Selasa (23/5).

Mengenai kemungkinan harga naik lagi, ibu lima anak ini mengaku tidak tahu. Menurutnya, harga setiap komoditi itu bergantung dari harga yang ditetapkan oleh distributor. “Harga itu biasa tergantung dari yang kirim barang. Kalau dia kasih naik, maka otomatis kita juga harus menaikan harga barang tersebut,” jelasnya.

Lela, pedagang sembako di Kolaka mengaku kenaikan beberapa komoditi sudah berlangsung sepekan terakhir.
Sama halnya, Wa Ode Muhu, dia juga hanya mengkondisikan harga dari distributor. “Kalau distributor naikkan harganya, kami juga pasti menyesuaikan. Tidak mungkin kami cari rugi kalau bertahan dengan harga semula,” katanya. Kabid Perdagangan Deperindag Kota Kendari, Yusran membenarkan soal adanya lonjakan harga menjelang ramadan. “Benar ada dinamika harga saat menjelang ramadan. Namun selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga menyebabkan sehingga harga tersebut mengalami lonjakan,” jelasnya.

Pertama itu cabe merah kriting itu mengalami kenaikan. Setelah ditelusuri penyebab lainnya adalah kendala cuaca. “Tidak bisa kita pungkiri akhir-akhir ini Sultra memang mengalami cuaca buruk. Sehingga itu berdampak pada kondisi pertanian caba. Selama ini kita mengambil cabai  dari Konawe Selatan (Konsel) dan Konawe, namun ternyata di Andoolo juga stok terbatas akibat cuaca,” terangnya.

Soal kenaikan harga bawang putih, menurutnya bukan hanya Sultra saja, tapi secara nasional. “Bawang putih itu lebih fluktuasi. Komoditi ini sudah skala internasional dan nasional. Karena pasokan bawang putih kita itu rata-rata dari luar negeri, kejadian yang terjadi di Laut Cina selatan bisa menjadi salah satu penyebab kenaikan harga tersebut,” katanya.

Yusran menambahkan, mengatasi persoalan tersebut, pihaknya akan intens mengadakan operasi pasar bersama Bulog. “Kita juga akan menggelar pasar murah di 11 Kecamatan setalah sepekan puasa, secara bergantian. Dan langkah terakhir adalah melakukan pengawasan terhadap distributor bagaimana stok pangan secara keseluruhan,” tuturnya.

Disejumlah pasar tradisional Konut, kondisinya tidak lebih baik. Berdasarkan hasil pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Konut di pasar tradisional di Kecamatan Langgikima dan Andowia rata-rata menunjukan kenaikan harga.

1 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
To Top