Penderita Diabetes, Perhatikan Ini Sebelum Manjalankan Ibadah Puasa – Kendari Pos Online
Iklan DPRD Koni Sultra
Kesehatan

Penderita Diabetes, Perhatikan Ini Sebelum Manjalankan Ibadah Puasa

KENDARIPOS. CO. ID — Bulan suci Ramadan merupakan momen besar bagi umat muslim yang pantang dilewatkan. Tapi, tak semua orang diberkahi kesehatan optimal. Ada yang mesti mengonsumsi obat pada jam-jam tertentu. Salah satunya penderita diabetes. Bagaimana mereka berpuasa?

Diabetes melitus atau DM terbagi menjadi dua. Yakni, DM tipe I dan DM tipe II. Perbedaannya ada pada pencetusnya. DM tipe I disebabkan kelainan genetik. ’’Istilahnya, dari sananya, pabrik insulinnya sudah korslet. Produksinya tidak bisa otomatis dan menyesuaikan kebutuhan tubuh,’’ ungkap dr Diana SpPD.

Sementara itu, DM tipe II merupakan kasus diabetes yang muncul karena pola hidup kurang baik. Menurut kesepakatan Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Dalam Indonesia (PB PAPDI), DM tipe I disarankan tidak melaksanakan puasa. Sebab, mereka bergantung pada suntik insulin. Sedangkan penderita DM tipe II bisa melaksanakan puasa dengan syarat pasien stabil dan gula darah terkontrol.

’’Amannya, sebelum puasa memang disarankan periksa. Syaratnya, gula darah di antara 150–300 mg/dl, hasil pemeriksaan hbA1c kurang dari 7 persen,’’ kata Diana.

Diana memaparkan, pengobatan harus tetap jalan, tapi dosis dan jadwalnya diatur ulang. Sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter. Biasanya pemberian obat oral dibagi ketika buka, sebelum tidur, dan ketika sahur. Hal itu juga berlaku untuk pasien yang bergantung pada suntik insulin. ’’Dua pertiga dosis suntikan diberikan saat buka, sepertiga dosis saat sahur,’’ tegasnya.

Namun, Diana menegaskan, umumnya pasien yang mendapat resep obat dengan jadwal lebih dari tiga kali sehari bakal menerima dosis atau jenis obat yang berbeda. ’’Harus konsultasi untuk dosis dan jenis. Pasien bisa jadi disarankan tidak puasa jika dosisnya tidak mungkin diberikan selama buka hingga sahur,’’ lanjut Diana.

Menurut spesialis penyakit dalam yang berpraktik di RKZ Surabaya itu, selama puasa, diet sehat dan olahraga wajib dilaksanakan. ’’Ini yang kadang dilupakan pasien. Karena merasa seharian sudah nggak makan, saat buka, mereka makan banyak dan lupa obat,’’ ujarnya.

Hal tersebut tentu membuat kondisi tubuh drop. Diana menjelaskan, selama berpuasa, tubuh mendapat energi dari makanan sahur. Yang pertama diproses adalah karbohidrat, lalu protein.

Ketika terserap dan habis, tubuh bakal berganti memanfaatkan cadangan makanan berupa lemak. Cadangan itu diolah menjadi gula, lantas diserap tubuh dengan bantuan insulin. ’’Makanya, jelang siang, tubuh lemas. Begitu dekat jam buka, tubuh kembali segar,’’ lanjut alumnus Universitas Sam Ratulangi, Manado, tersebut.

1 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
To Top