Tradisi Mangani’a dan Kadandio di Wakatobi, Dulu Minum Arak, Kini Diganti Non Alkohol – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Wakatobi

Tradisi Mangani’a dan Kadandio di Wakatobi, Dulu Minum Arak, Kini Diganti Non Alkohol

Tradisi Mangani’a dan Kadandio di Wakatobi. Foto : Asty/Kendari Pos.

kendaripos.fajar.co.id — Kemasyhuran Wakatobi tidak hanya soal keindahan taman bawah laut. Kultur penuh nilai hidup juga abadi. Tradisi masa lampau diangkat lagi, agar jadi tontotan sekaligus tuntunan.

Asty Novalista, Wakatobi

Kenangan itu mendadak melintas di benak Mursida. Perempuan asal Desa Liya Togo, Wangi-wangi itu langsung merewind kembali ingatannya saat di depannya sebuah tradisi Mangani’a dan Kadandio dipentaskan. Setelah cukup lama mengingat, Mursida baru sadar jika terakhir kali ia menyaksikan tradisi itu, tahun 1986 lalu. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas III SD.

“Berarti sudah 31 tahun lalu ya acara ini terakhir saya lihat. Kebetulan saat itu, saya ikut sebagai pembawa Liwo—talang berisi makanan-, syukurlah saya bisa lihat kembali tradisi ini,” kata Mursida, yang saat ini usianya sudah 40 tahunan. Perempuan itu mengaku bangga bisa kembali menyaksikan tradisi agung di kampungnya.

Pentas Mangani’a dan Kadandio disaksikan Mursida, pertengahan April 2017 lalu saat Desa Liya Togo, Kecamatan Wangiwangi Selatan ditetapkan sebagai Desa Wisata (Community Based Tourism) oleh Pemda Wakatobi bertempat di halaman Masjid Mubaroq Liya Togo. Desa yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan wilayah Liya Raya ini memiliki banyak aset sisa kejayaan kerajaan abad ke 15 sebelum masehi, memiliki potensi yang dapat menarik minat kunjungan wisatawan mancanegara.

Mangani’a adalah tradisi yang biasa dilakukan sebagai bentuk syukur masyarakat terhadap maha kuasa, sementara Kadandio adalah lagu berisi syair cinta antara muda-mudi. “Saya masih anak-anak waktu itu. Yang kami ingat bukan syairnya, tapi Liwo karena kamilah yang ditugasi menjaganya. Soal filosofi tradisi ini kami saat itu tidak begitu paham,” katanya, akhir pekan lalu saat berbincang dengan Kendari Pos

Setelah cukup lama tak digelar, tradisi ini dihidupkan kembali di era pemerintahan Bupati Arhawi. Mangani’a dan Kadandio dulunya menjadi salah satu pemersatu seluruh dusun di wilayah Kadie Liya atau Liya Raya. Setelah dirembungkan kembali oleh seluruh masyarakat Liya, warga akhirnya sepakat untuk menghadirkan kembali Mangani’a dan Kadandio di tengah-tengah masyarakat sebagai prosesi adat yang harus diselenggarakan.

1 of 3

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top