Risna, Bocah Asal Kolut yang Menderita Tumor di Wajah, Jangankan Berobat, Makan Saja Susah – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
Zetizen Iklan Iklan 10 Iklan 23
Kolaka Utara

Risna, Bocah Asal Kolut yang Menderita Tumor di Wajah, Jangankan Berobat, Makan Saja Susah

Selalu ada cerita anomali dibalik pesatnya dunia kesehatan dan tingginya anggaran di sektor ini. Di Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ada bocah bernama Risna yang menatap masa depan dengan ketidakpastian. Tumor kini menutupi hampir seluruh wajahnya.

Muhammad Rusli, Lasusua

Nasib baik tak menaungi Risna ketika lahir. Bocah perempuan yang ditambahkan “wati” di ujung namanya, dan tercatat di akta lahir itu, sudah harus merasakan getirnya hidup saat mulai bernafas. Ayahnya meninggal kala usianya masih Balita. Saat lahir, ada benjolan di wajahnya yang kini membesar. Berobat, itu jadi sesuatu yang sulit. Kemiskinan membuat langkah ibundanya, Masni, terasa berat.

Risna lahir di sebuah pondok kebun di Desa Nimbuneha Kecamatan Ngapa Kabupaten Kolaka Utara (Kolut). Usianya belum genap enam tahun, tepatnya sejak 20 Desember 2011. Dengan segala keterbatasan, sang ibu masih memikirkan pendidikan Risna. Belum lama ini, bocah perempuan itu diboyong dari kebun, ke wilayah kecamatan. “Risna saya kasih sekolah dulu di TK,” kata Masni, perempuan perkasa yang mengurusi anaknya seorang diri sejak 2015 lalu.

Mereka kini bermukim di Lorong Tower, Desa Beringin. Rumahnya dibangun seadanya. Dinding papan dan bolong diberbagai sudut. Celah sinar leluasa masuk dari balik dinding-dinding itu.  Atas seng ditambal di berbagai titik. Ia tinggal bersama adik laki-lakinya, bernama Irwan. Kendari Pos, ditemani mantan Kades Nimbuneha, Andi Amir Hamzah menemui bocah tersebut di Desa Beringin.

Risna tercatat saat ini berstatus murid di Taman Kanak-kanak (TK) di TK Samaturu. Setiap hari sekolah, ibunya punya tugas mengantar jemput Risna tanpa lupa membawa Irwan dituntunnya. “Ini rumah sendiri, kalau di Nimbuneha itu hanya rumah berkebun. Kita tinggal di sana karena kita hidup dari hasil kebun. Karena Risna sudah sekolah maka saya bawa ke sini (Beringin),” tutur Misna, ibu Risna, Minggu (30/4).

Sang ibu bercerita, anaknya ditinggal ayah, Ashar ketika si kecil masih dalam kandungan. Dari kehidupan sehari-hari dimana Misna yang tanpa ada pekerjaan itu harus menggantungkan biaya dari keringat ibunya untuk sementara yang menetap berkebun. “Hanya bantu bantu ibu di kebun, sehingga kami bisa makan dan hidup,” katanya memulai kisah getir hidupnya.

Meski penyandang tumor di wajah, Risna tetap giat bersekolah. Tidak ada perasaan minder dalam hati kecil bocah ini tampil biasa selayaknya anak-anak lainnya meskipun terkadang merasa kerap sepi dalam pergaulannya. “Ada juga sih (minder), tapi saya selalu semangati anak saya. Mainnya paling di rumah dan tetangga. Saya tidak ingin dia pergi jauh karena takut disambar kendaraan atau kenapa-kenapa,” ujar Misna.

Sebenarnya sambung Misna, Risna pernah ia bawa ke RSUD Djafar Harus, milik pemerintah daerah setempat. Tapi rumah sakit plat merah itu tidak bisa menangani apa yang diderita Risna. Bocah itu lantas dirujuk ke RS Wahidin Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), agar dilakukan penanganan lebih serus. “Saat itu, usia Risna baru 17 bulan. Katanya dokter di Makassar, itu namanya Neurofibromatosis atau tumor (kategori cair),” kata sang ibu.

Sayangnya, dokter di RS Wahidin juga kesulitan melakukan tindakan operasi mengingat usia sang bayi yang baru 17 bulan. Dokter memberi saran, bahwa operasi baru bisa dilakukan setelah sang anak berusia lima tahun, atau saat fisiknya sudah memadai untuk dilakukan tindakan medis berisiko. Ia pun membawa pulang anaknya.

Saat ini, paras bocah itu sudah hampir tertutup benjolan. Ada cairan yang selalu menetes di mata kiri, tapi hanya diusap. Tidak ada nyeri atau rasa sakit yang dirasakan Risna saat beraktifitas. Tapi ibunya khawatir, benjolan itu akan makin membesar hingga menutupi wajah bahkan sampai mata. “Makanya saya ingin bisa dioperasi. Tapi jangankan biaya operasi, makan saja ini kita susah,” ujarnya.

Saat bayi, Masni sempat hendak menusuk sendiri benjolan di wajah anaknya itu karena dianggap seperti bisul. Untung saat itu, ia dilarang ibunya atau nenek Risna. Namun seiring dengan gumpalan di wajah Risna yang terus membesar membuatnya tidak mampu berbuat apa-apa, mau berobat tak punya biaya.

Ia berharap anak gadisnya bisa mendapatkan perhatian pemerintah maupun para tangan dermawan yang berbelas kasihan agar buah hatinya bisa seperti anak-anak sebayanya yang bebas bergaul. Dirinya dihantui rasa cemas akan kondisi anaknya dibalik keceriaan sang buah hati. “Saya mau dapat uang dari mana kasian, bapaknya juga sudah tidak ada, kita (bertiga) juga makan (dibiayai) dari hasil kebun neneknya untuk sehari-hari,” ujarnya menitikan air mata.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top