Kain Kapan Berhamburan, Kerangka Mayat Hilang, Penyebabnya…. – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Sulawesi Tenggara

Kain Kapan Berhamburan, Kerangka Mayat Hilang, Penyebabnya….

 

kendaripos.fajar.co.id BOMBANA- Warga Pulau Sagori, Kecamatan Kabaena Barat resah. Setiap musim barat datang, pulau yang mereka tempati selama bertahun-tahun selalu mengalami abrasi. Bahkan, akibat erosi pantai yang setiap tahun terjadi, menyebabkan makam leluhur penduduk pulau Sagori mengalami kerusakan.

makam

Daeng Situju, salah seorang penduduk Pulau Sagori mengatakan, hingga tahun ini, diperkirakan sudah puluhan hingga seratusan makam penduduk pulau Sagori rusak akibat abrasi. Bukan hanya makam lama, makam baru pun tidak luput dari pengikisan pantai oleh gelombang dan arus laut.

Menurut guru SD Negeri 144 Sikeli ini, abrasi di Pulau Sagori, terjadi setiap hari selama enam bulan setiap tahunnya. Daerah yang menjadi langganan abrasi terletak di sebelah Utara Pulau Sagori. Erosi pantai terjadi di musim Barat, mulai November hingga April. “Bayangkan kalau setiap hari selama enam bulan dihantam gelombang. Pasti rusak, apalagi makam warga lokasinya dekat dengan bibir pantai,” jelasnya.

Abrasi pantai di Pulau Sagori juga dibenarkan Camat Kabaena Barat, Daeng Pasorong. Menurutnya, erosi pantai yang terjadi di wilayah itu tidak hanya menyebabkan rusaknya seratusan makam leluhur penduduk setempat. Namun abrasi juga mengancam fasilitas umum serta rumah penduduk di pulau Sagori.

makam lagi

“Untuk sekarang, yang paling menyolok mengalami kerusakan akibat abrasi adalah kuburan warga. Jumlahnya bisa sampai ratusan,” katanya. Bahkan sesuai amatannya beberapa waktu lalu, akibat abrasi, membuat kuburan warga yang sudah permanen hancur dan rata dengan tanah. Bahkan kain kafan pembungkus mayat berseliweran di pinggir pantai, sementara rangka dari kuburan tersebut, diperkirakan sudah terbawa arus ke dalam laut.

Mantan Kabid Pertambangan Umum Dinas Pertambangan dan Energi di era kepemimpinan Pj Bupati Muh Hakku Wahab ini mengatakan, abrasi pantai di pulau Sagori diperkirakan sudah terjadi puluhan tahun lalu. Kondisi seperti ini disebabkan, tidak ada satupun tanggul pemecah gelombang yang dibangun di sekitar pulau Sagori.

Menurut Daeng Pasorong, wilayah yang menjadi prioritas pembangunan talud terletak di wilayah Utara Pulau Sagori. Panjangnya sekira 250 meter. “Jika warga pulau Sagori nyaman atau makam leluhur mereka aman, tidak alternatif lain selain dibuatkan tanggul pemecah gelombang. Kami berharap Pemda Bombana atau pihak terkait memprioritaskan masalah ini,” imbuhnya. (b/nur)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.





Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top