Warga Konawe Diduga Ikut Jadi Korban Kapal TKI yang Karam di Johor – Kendari Pos Online
Iklan DPRD Koni Sultra
Sulawesi Tenggara

Warga Konawe Diduga Ikut Jadi Korban Kapal TKI yang Karam di Johor

KENDARIPOS.CO.ID KENDARI– Kabar mengenai tenggelamnya sebuah perahu pancung yang mengangkut Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Tanjung Rhu, Johor, Malaysia, 23 Januari lalu membuat was-was keluarga besar seorang wanita bernama Tisnawaty alias Nining, di Desa Kumapo, Kecamatan Onembute, Konawe. Soalnya, perempuan itu dilaporkan ikut menumpang di perahu yang hendak menyeberangkan sekira 50 orang dari Batam.

Exif_JPEG_420

Nining meninggalkan Konawe, 16 Januari lalu setelah mengunjungi anak-anaknya selama 10 hari, dan tiba esok harinya di Batam. Selama ini ia memang menetap di Malaysia, dan sudah menikah lagi dengan pria di negeri jiran itu. Hanya saja, setiap ke Johor, ia selalu menggunakan jalur tidak resmi alias illegal. “Kebetulan sebelum kapal itu berangkat dari Batam, sekitar jam 7 pagi, 22 Januari, Nining menelpon anaknya. Ia juga sampaikan bahwa banyak temannya di perjalanan nanti,” tutur menantu Nining yang bernama Aswan, saat ditemui kemarin.

Esok harinya, kata Aswan, mereka menonton televisi yang mengabarkan adanya kecelakaan kapal di perairan Johor, Malaysia. “Kita langsung telepon suaminya di Malaysia. Dan diakui bahwa kapal yang karam itu ditumpangi Nining, dan sampai kemarin belum ditemukan apakah dia selamat atau bagaimana kabarnya. Yang pasti kami belum bisa menghubungi Nining,” tambah warga Desa Kumapo ini.

Untuk diketahui, Nining memiliki lima orang anak dari pernikahan pertamanya. Anak-anaknya itu semua menetap di Konawe. Wanita kelahiran 1977 itu sudah kali ketiga ia menyeberang lewat Batam untuk menjadi tenaga kerja asing (TKA) di Malaysia. Pertama berangkat sekitar tahun 2013 dan menikah dengan warga Malaysia, sampai punya  satu orang anak, lalu kembali ke Indonesia 2015. Kedua kalinya ia berangkat Oktober 2016, dan pulang lagi 6 Januari 2017, untuk bertemu anaknya.

“Keluarga sekarang rutin melakukan yasinan, dan berdoa demi keselamatan ibu,” kata Aswan. Pria ini berharap, ibu mertuanya itu termasuk salah satu yang selamat dan saat ini sedang menyelamatkan diri ke hutan, seperti beberapa korban selamat lainnya yang ditemukan di Malaysia.

Menurutnya, sebelum meninggalkan Konawe, Nining memang memperlihatkan gelagat aneh. Bila selama ini ia jarang berfoto, mendadak ia rajin meminta diambil gambarnya, bersama anak-anaknya. “Kemudian, saat kapalnya akan berangkat, ia telepon anaknya. Setelah kapal tenggelam, nomornya sudah tidak bisa dihubungi. Tapi, dia bilang kalau sampai di Malaysia mau ganti nomor, dan akan langsung menelpon,” jelasnya.

Hingga kemarin, tim Search and Rescue (SAR) Malaysia baru menemukan 15 jenazah dari lima berhasil diidentifikasi. Tiga laki-laki satu perempuan. Wakapolda Kepri Brigjen Pol Didi Haryono menjelaskan, jenazah berhasil diidentifikasi melalui dental. Salah satunya yakni Syaifur Rohman,37 asal Sukodono Bondowoso.

Selain dari dental, pihak DVI juga berhasil mengenali jasad pria tersebut dari barang-barang yang dibawanya. Jenazah itu bernama Wassalam,36 asal Punten Barat, Madura. Kemudian ada nama Imam Mubarok, 32, asal Tangkil, Jawa Timur. Kondisi jenazah yang masih lengkap dan mudah dikenali. Adik korban berhasil mengenalinya melalui fotonya.

Lalu jenazah dengan nomor register 05 atas nama Cici Lailatul Fajriah, 32, asal dari Panyaman, Jawa Timur. Pengenalan jenazah dari catatan medisnya. “Jenazah ini berada di RS Mershing, Johor. Namun data ante mortemnya dengan kami (RS Bhayangkara),” tuturnya.

Didi mengatakan pihaknya hingga kini masih terus melakukan pengidentifikasian terhadap beberapa jenazah yang masih belum dikenali. “Tim DVI masih terus bekerja, masih ada 14 jenazah lagi yang belum dikenali” tuturnya. Hingga saat ini, Didi mengatakan jumlah korban dari kapal tenggelam ini berjumlah 53 orang. “Delapan orang selamat di Malaysia, 45 orang meninggal dunia. Dan sudah teridentifikasi seluruhnya sebanyak 15 orang,” ujarnya.

Kepala Kepolisian Daerah Mersing, Malaysia, Deputi Superintendan, Cyril Edward Nuing, menjelaskan dari keterangan penumpang yang selamat, kapal tersebut berangkat dari Batam pada pukul 20.00 WIB, Minggu (22/1).
Di perjalanan, saat memasuki wilayah Malaysia, tepatnya perairan Tanjung Rhu, Mersing, Malaysia, perahu terbalik diterjang ombak besar sekitar pukul 04.30 WIB dini hari, Senin.

Ketinggian ombak di kawasan itu mencapai 2,5 hingga 3 meter. Saat itu, wilayah Batam dan Malaysia didera hujan lebat sejak Minggu malam.

Nelayan setempat menemukan 10 jenazah terdampar di pantai sepanjang perairan Tanjung Rhu itu. Boat pancung yang ditemukan terbalik itu saat ini dibawa ke kantor polisi di Tanjung Leman, Johor.

Sementara itu, dua orang yang ditemukan selamat dalam kondisi lemas dibawa ke klinik kesehatan setempat, dan dirawat di Rumah Sakit Tenggaroh 2, Mersing. Tidak ada dokumen apa pun yang melekat pada dua korban selamat tersebut. Cyril menduga ada korban lainnya yang selamat, namun mereka melarikan diri ke hutan-hutan di wilayah tersebut karena takut ditangkap petugas.

“Saat ini dalam pencarian. Operasi pencarian korban melibatkan 77 anggota SAR, kepolisian, Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM), Angkatan Pertahanan Sipil (APM) dan Angkatan Darat Malaysia,” tegas Cyril.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Tanjungpinang, Kombes Pol H Ahmad Ramadhan, membenarkan peristiwa nahas tersebut. Namun, dirinya belum memastikan apakah perahu itu memang membawa TKI menuju Batam atau tidak.

“Informasinya benar. Sesuai informasi awal, boat itu diduga berasal dari Indonesia khususnya Batam. Masyarakat menemukan mayat-mayat terdampar di pantai,” kata Ramadhan.(hel)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
To Top