Louis van Gaal, Gurunya Pelatih Sepak Bola – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Olahraga

Louis van Gaal, Gurunya Pelatih Sepak Bola

Louis van Gaal (Herlambang/Jawa Pos)

Louis van Gaal (Herlambang/Jawa Pos)

SEDERET pelatih top Eropa, bahkan dunia, menimba ilmu darinya. Mulai Pep Guardiola, Jose Mourinho, Luis Enrique, Ronald Koeman, Frank Rijkaard, sampai Phillip Cocu. Semuanya adalah pelatih yang punya mentalitas pemenang.

’’PRIA ini akan jadi salah satu pelatih terhebat sepanjang masa. Dia akan membawa sepak bola ke arah yang modern.’’ Begitu kata Sir Bobby Robson saat memperkenalkan Louis van Gaal kepada istrinya dalam sebuah jamuan makan malam pada musim panas 1997. Itu terjadi sesaat setelah Robson lengser sebagai pelatih Barcelona dan digantikan Van Gaal.

Atas rekomendasi Robson pula, Van Gaal menaikkan pangkat Jose Mourinho. Dari semula di posisi penerjemah menjadi asisten pelatih ketiga. Di skuadnya, Van Gaal punya gelandang jempolan seperti Pep Guardiola dan Luis Enrique. Semusim setelahnya, 1998–1999, Phillip Cocu bergabung dengan Guardiola dan Enrique. Lalu, Ronald Koeman datang sebagai asisten pelatih. Diikuti Frank de Boer semusim kemudian.

Dan, kini semua nama di atas sukses berkarir sebagai pelatih. Bukan pelatih biasa-biasa saja, melainkan seorang tactician dengan karakter sekaligus filosofi permainan yang kuat. Satu lagi, mereka punya mentalitas sebagai pemburu trofi.

Van Gaal memang memiliki cara tersendiri dalam mengasah mereka. Misalnya yang dilakukan untuk Guardiola. Pada musim pertama Van Gaal, Guardiola sering absen karena cedera. Bahkan, media Catalan mengira dia terbuang. Tapi, siapa sangka, Van Gaal menjadikan Guardiola sosok penting dalam klubnya. ’’Saya tunjuk dia sebagai kapten,’’ ucap Van Gaal kepada Guillem Balague dalam biografi Guardiola berjudul Another Way of Winning sebagaimana dilansir De Telegraaf.

Terkesannya Van Gaal dengan Guardiola yang kala itu berusia 27 tahun memang bukan hanya berasal dari permainannya. Iron Tulip –julukan Van Gaal– juga mencium potensi Guardiola untuk menjadi seorang filsuf seperti saat ini. ’’Dia (Guardiola) juga bisa bicara layaknya seorang pelatih. Tidak semua pemain bisa melakukannya,’’ tutur Van Gaal.

Satu di antara beberapa aspek penting dalam diri Van Gaal memang mirip dengan Guardiola. Terutama saat Guardiola menancapkan karir melatih di Barcelona. Bermain menyerang, lalu dipadu dengan pergerakan dan positioning ketika tim sedang menyerang atau menguasai bola.

Begitu pun variasi formasi. Van Gaal maupun Guardiola bukan sosok yang fanatik dengan satu skema. Mulai 4-3-3, 4-4-2, 3-4-3, 3-1-2-3, 4-2-3-1, sampai 4-1-3-2, semuanya pernah dicoba. Menurut Van Gaal, sepak bola bukan cuma formasi. Tetapi, bagaimana pemainnya mampu menjalankan setiap formasi yang diinginkan. Karena itulah, Van Gaal menyukai pemain yang bisa bermain di segala posisi seperti Guardiola.

Dari Van Gaal, Guardiola mengaplikasikan bersama timnya. Kayanya formasi saat memenangkan 14 trofi bersama Barcelona dipertahankan saat menjajal ranah Jerman bersama Bayern Muenchen. FourFourTwo menyebutkan, Guardiola menggunakan sembilan variasi formasi selama tiga musim bersama klub asal Bavaria tersebut. Toh, Bayern tetap tidak kehilangan dominasi.

Pandai membaca potensi orang-orang terdekat memang menjadi kunci sukses Van Gaal dalam mentransfer ilmu sepak bola yang dimiliki. Bukan hanya asisten pelatih, Van Gaal juga membolehkan Mourinho yang kala itu masih penerjemah untuk memberikan masukan taktik kepadanya dalam sebuah pertandingan uji coba.

Menurut Van Gaal yang genap berusia 66 tahun pada 8 Agustus mendatang, dirinya membiarkan hal tersebut karena ingin menumbuhkan konfidensi Mourinho. Dalam diri Mourinho, Van Gaal seperti menemukan dirinya di masa muda. Yakni, pria muda yang arogan, tidak respek dengan otoritas, dan tidak bisa diprediksi. Karakter yang terkadang brilian, tetapi terkadang kolot.

Van Gaal mengakui, Mourinho lebih dari asistennya yang lain. Namun, tidak seperti Guardiola, Mourinho berbeda. Pria yang musim ini menggantikan posisinya di Manchester United itu bukan tipikal pelatih yang menyukai attacking football.

Sejak meniggalkan Camp Nou dan merapat ke Benfica pada September 2000, Mourinho sudah jauh dari gaya permainan ala Barcelona dan Ajax Amsterdam dari Van Gaal. Atau biasa disebut Barcajax. Van Gaal pun mengakuinya. ’’Dia lebih meyakini pertahanan ketimbang menyerang. Kalau saya selalu (menyerang) karena bagi saya, kami harus bisa menghibur publik dengan permainan yang menyerang. Meski saya yakin filosofi dia (Mourinho) untuk menang!’’ ungkapnya seperti tertuang dalam biografi Mourinho.

Bersama Setan Merah –sebutan Manchester United– musim ini, Mourinho sejatinya masih mewarisi gaya permainan Van Gaal. Sebab, skema 4-3-3 yang belakangan diusung Mourinho lebih dekat dengan 4-2-3-1 milik Van Gaal musim lalu. Yakni, memasang satu pemain di posisi gelandang bertahan dan dua gelandang box-to-box.

Mourinho memang tidak seidentik gaya permainan Guardiola dengan Van Gaal. Tetapi, cara dia memperlakukan staf-staf pelatihnya sama seperti perlakuan Van Gaal di Barcelona. Sebab, di antara murid-murid Van Gaal, hanya Mourinho yang punya banyak murid. Aitor Karanka, Brendan Rodgers, Andre Villas-Boas, dan Steve Clarke menjadi buktinya. (ren/c19/dns)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top