Tindak Penarik Retribusi di Taman Wisata Mangrove Teluk Kendari! – Kendari Pos Online
Metro Kendari

Tindak Penarik Retribusi di Taman Wisata Mangrove Teluk Kendari!

Taman wisata mangrove di Teluk Kendari, yang sudah ramai dikunjungi warga metro Kendari.

Taman wisata mangrove di Teluk Kendari, yang sudah ramai dikunjungi warga metro Kendari.

KENDARIPOS.CO.ID,KENDARI—Taman wisata hutan mangrove di Teluk Kendari belum resmi diserahkan ke Pemda. Anehnya, ada oknum yang berulah dengan mengatasnamakan pihak pengelola. Mereka memanfaatkan situasi saat warga berkunjung ke destinasi wisata baru ini dengan melakukan pengutipan biaya. Yang janggal, pungutan yang mereka tarik tidak disertai karcis retribusi. Beberapa warga sempat keberatan. Namun dengan berbagai alasan yang terkesan dibuat-buat, warga akhirnya rela membayar retribusi meski tidak dilengkapi karcis.

Kepala Dinas Cipta Karya Bina Konstruksi dan Tata Ruang Sultra, Pahri Yamsul mengaku kaget. Meskipun proyek pengerjaannya telah rampung, pengelolaan belum diserahkan ke Pemda. Saat ini, pihaknya tengah berkoordinasi dengan Ditjen Bina Konstruksi KemenPU-Pera terkait jadwal penyerahannya. Bila ada pihak yang menarik pungutan, ia pastikan perbuatan ilegal dan termasuk pungutan liar (Pungli). Makanya, ia berjanji akan segera menertibkan. Termasuk menindak tegas aparatnya yang kemungkinan turut terlibat.

“Mana bisa dikelola, sementara penyerahannya belum dilakukan. Rencananya, aset itu akan kita serahkan ke Pemkot Kendari. Seperti halnya, pengelolaan Pantai Nambo maupun taman kota. Proyek pengerjaannya dirancang provinsi, namun dananya bersumber dari APBN dan pengelolaan diserahkan ke Pemkot. Jangan bicara pengelolaannya dulu, penyerahan ke Pemda saja belum. Jadi bisa dipastikan, itu Pungli. Kalau ada oknum yang menarik pungutan, laporkan saja,” tegas mantan Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sultra ini saat ditemui, Selasa (10/1).

Sesuai peruntukannya lanjut Ketua Pengurus Softball Sultra ini, taman wisata mangrove ini akan dijadikan arena bersosialisasi layaknya Taman Kota. Sebab pada prinsipnya, taman ini memang untuk sarana umum atau digratiskan. Namun menekan biaya operasional dan perawatan, Pemda tetap diberikan peluang untuk mengelola secara profesional. Kerja sama pengelolaannya bisa dipihakketigakan (swasta) atau dikelola sendiri melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).

“Namun untuk saat ini, prosesnya belum sampai ke situ. Kan, masih dalam proses penyerahan. Secara keseluruhan proyeknya sudah rampung, namun ada beberapa hal yang masih perlu dibenahi. Makanya, ada rencana pembangunan lahan parkir. Hal ini untuk mengantisipasi adanya pengunjung akan memarkir kendaraan di sisi jalan. Diperkirakan, pengunjung akan meningkat pasca diresmikan. Untuk itulah, ada beberapa lokasi yang telah disiapkan,” jelas Pahri.

Pembangunan taman wisata hutan mangrove merupakan bagian dari pengembangan destinasi wisata Teluk Kendari. Awalnya, pembiayaannya akan ditanggung Pemda. Namun karena dana APBD Sultra terbatas, Pemprov mengajukan proposal ke KemenPU-Pera. Setelah melewati pembahasan yang cukup ketat, nomenklatur anggarannya akhirnya disetujui. Pada tahun 2016, alokasi anggarannya mulai dikucurkan. Total biaya pengerjaan proyek ini senilai Rp 5 miliar.

“Saya mengingatkan oknum yang melakukan pungutan untuk menghentikan aksinya. Yang pasti, tidak ada satupun instruksi mengenai hal itu. Setiap penarikan retribusi itu ada dasar hukumnya baik dalam bentuk Perda maupun Perkada. Bagi warga, agar tidak bereaksi berlebihan, namun cukup menolak bila ada yang menarik pungutan. Untuk menghentikan Pungli ini, kami akan turun ke lokasi,” tandasnya. (amal)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top