Pariwara
HEADLINE NEWS

Pendiri Yayasan Lakidende Laporkan Siti Aminah Razak Porosi ke Polda Sultra

kendaripos.fajar.co.id UNAAHA- Hari tua Dra. H. Siti Aminah Razak Porosi, kini terusik. Keberaniannya merubah akta pendirianUniversitas Lakidende (Unilaki) di Kabupaten Konawe sebagai milik keluarga, berbuah pelaporan ke Polda Sultra, pada 5 Januari 2017. Oleh para pendiri Yayasan Lakidende yang diwakili Drs. H. Basrim Suprayogi, istri mantan bupati Kendari itu, dilaporkan melanggar pasal 263 KUHP, terkait tindak pidana pemalsuan dengan ancaman pidana 6 tahun penjara.

images-4

“Kami sudah laporkan ibu Siti Aminah Cs ke Polda Sultra, dengan tanda bukti lapor no. TDL/06/I/2017/SPKT Polda Sultra. Hari itu juga, pak Basrim dimintai keterangan, terkait pemalsuan yang dilakukan ibu Aminah. Pak Mahsyur Masie dan Yasin Togala juga akan dimintai keterangan sebagai saksi pelapor,” kata DR. Arifin Banasuru, saat dikonfirmasi, kemarin.

Arifin Banasuru sendiri merupakan rektor terpilih, versi Yayasan Lakidende yang asli yang dilantik 9 januari lalu. Dia kemudian mengurai fakta tentang legalitas Universitas Lakidende yang kini ada dalam “penguasaan” Siti Aminah.

Tahun 1995, 17 orang membentuk yayasan Lakidende di depan notaris, Rahmatia Hambu SH yang berkedudukan di Kota Kendari. Akta notaris tersebut bernomor 10 tahun 1995. Berdasarkan akta notaris itu, maka yayasan mengusulkan pendirikan perguruan tinggi tahun 1996. Di tahun itu pula, keluar izin pendirian Universitas Lakidende, di bawah yayasan Lakidende berdasarkan SK mendikbud no.02/D/O/1996, yang memberikan status terdaftar pada almamater itu.

Saat itu, Drs. H. Abdul Razak Porosi bertindak selaku ketua yayasan dan Drs. Mahsyur Masie Abunawas selaku wakil ketua. Dalam perjalanannya, Universitas Lakidende berkembang menjadi universitas yang difavoritkan warga Kabupaten Konawe. Terbukti dengan banyaknya PNS yang melanjutkan studinya di kampus ungu itu.

Siti Aminah kemudian berniat menguasai pengelolaan universitas Lakidende. Maka di tahun 2010, dia membuat akta baru no. 01 tahun 2010 di Makassar. Setelah akta tersebut selesai, Siti Aminah menyampaikan pada civitas akademika dan mengumumkan ke masyarakat Konawe, bahwa yayasan Lakidende telah diubah menjadi yayasan Lakidende Razak Porosi. Namun, akta 2010 tidak pernah diperlihatkan Siti Aminah ke publik. Karena sesungguhnya, kata Arifin, di akta tersebut adalah pendirian yayasan baru yakni Yayasan Lakidende Razak Porosi, bukan yayasan Lakidende. Berbekal akta, universitas kebanggaan masyarakat Konawe itu, akhirnya sepenuhnya menjadi milik Siti Aminah.

Dia pun mengendalikan dan mengelola seluruh aset maupun keuangan Unilaki atas nama yayasan Lakidende Razak Porosi, dengan cara yang tidak benar. Sebagai buktinya, di tahun 2013, Dikti akan mengucurkan dana penunjang pembelajaran senilai Rp 600 juta untuk semua perguruan tinggi swasta, salah satunya Unilaki. Rektor Unilaki saat itu, Ir. Saiful Bahri, M.Si kemudian mengirim berkas, berupa akta notaris tahun 2010, dengan izin pendirian Mendikbud 02. Namun pihak Dikti menolak akta tersebut dan menyatakan bahwa, akta itu tidak ada hubungannya dengan Unilaki. Pihak Dikti hanya mau menerima akta pendirian pertama di tahun 1995.

“Setelah akta 1995 dikirim, barulah dana dicairkan. Tapi rektor mulai pelajari, kenapa pengajuan pertama ditolak Dikti. Ternyata karena tidak ada hubungannya, antara yayasan Lakidende Razak Porosi dan yayasan Lakidende,” jelas Arifin.

Perbuatan Siti Aminah yang menjadikan universitas Lakidende sebagai miliknya, tak bisa diterima oleh para pendiri. Di tahun itu juga (2010-red), Badan pendiri Yayasan Lakidende berusaha mengadakan rapat perubahan Anggaran Dasar (AD). Tujuannya, karena saat itu Razak Porosi selaku ketua sudah tak mampu lagi melaksanakan tugas karena sakit. Selain itu, sebagian pendiri sudah meninggal, sehingga banyak persyaratan administrasi yang harus dipenuhi untuk merubah akta Yayasan Lakidende.

Sayangnya, upaya para pendiri untuk rapat menemui kegagalan. Sebab, Siti Aminah yang diundang untuk rapat, menolak hadir. Dia justru mengusir Drs. Safrudin Pasuay yang juga mantan Dekan di Unilaki ketika membawa undangan rapat, sembari mengeluarkan makian.

“Saat proses perubahan yayasan Lakidende, berulang kali ibu Aminah diundang. Walaupun dalam undang-undang yayasan, seseorang yang telah meninggal, hak keanggotaannya otomatis hilang. Tapi kami tetap undang dia. Pihak Aminah menolak dengan memaki. Teningge papano i Opi, menggau ito mowau-wau nggitu yayasan lakidende (Kasih tahu bapaknya Opi, sudah lama basi itu Yayasan Lakidende. Itu diungkapkan ibu Aminah, waktu diantarkan undangan rapat dari wakil ketua yayasan, pak Mahsyur Masie Abunawas,” ungkapnya.

Arifin mengatakan, secara ex officio, ketika ketua yayasan berhalangan, maka posisinya digantikan oleh wakil. Tapi Aminah menolak hal itu. Dia justru mengambil alih dengan dalih, Yayasan Lakidende adalah warisan dari mendiang suaminya.


Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

The Latest

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top