Empat Gadis Morosi Dipersunting TKA Tiongkok – Kendari Pos Online
Iklan DPRD Koni Sultra
HEADLINE NEWS

Empat Gadis Morosi Dipersunting TKA Tiongkok

Salah satu TKA yang menikah dengan gadis Desa Morosi, Kabupaten Konawe, Sultra.

Salah satu TKA yang menikah dengan gadis Desa Morosi, Kabupaten Konawe, Sultra.

KENDARIPOS.CO.ID,KENDARI-–Kehadiran Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok tentu memengaruhi perubahan sosial di Desa Morosi Kabupaten Konawe. Hasil penelusuran Kendari Pos, Jumat (30/12), sudah ada empat TKA yang mempersunting gadis di desa itu. Mereka mengikuti adat pernikahan masyarakat lokal, jadi muallaf demi mendapatkan gadis Morosi.

Salah seorang warga Morosi yang menikah dengan TKA adalah Yuli. Saat Kendari Pos berkunjung ke rumahnya, wanita itu dikabarkan sedang jalan-jalan ke Tiongkok. Yuli dibawa oleh suaminya liburan tahun baru di negeri Tirai Bambu. Hanya ada ibu kandung Yuli di rumah itu. Ibu Yuli berdagang sayuran dan buah-buahan di pasar malam Morosi. Ia membenarkan anaknya telah menikah dengan salah seorang pekerja asing yang bekerja di PT VDNI. “Mereka lagi Honeymoon (bulan madu, red) di Tiongkok. Mereka akan kembali nanti setelah Imlek, karena suaminya masih akan kembali bekerja di sini,” ungkap wanita paru baya yang enggan menyebutkan namanya itu.

Dia menceritakan, awalnya anaknya bekerja sebagai juru masak di PT VDNI. Pertemuan yang intens dengan menantunya membuat benih-benih cinta di antara mereka tumbuh. Anaknya pun langsung memberitahukan kepada kedua orang tuanya bahwa mereka akan menikah dengan pekerja asing. “Saya sudah kroscek kalau menantu saya itu tidak punya istri di negaranya. Kalau sudah cinta tidak perlu menghalang-halangi. Kami sebagai orang tua, asalkan anak bahagia, kami juga sudah bahagia. Kalau saling suka ya nikah saja daripada buat maksiat” tutur ibu kandung Yuli. Sayang wanita itu tidak hafal nama menantunya.

Selain Yuli, Filla Fosia Kasim (18) warga Desa Bumi Indah, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe juga dipersunting warga Tiongkok. Filla menikah dengan Liu Cinjing (34). Saat hendak menikah, Liu Cinjing muallaf dan mengganti nama menjadi Muh Alif. Ayah Filla, Muhammad Kasim (47), saat ditemui di kediamannya, Senin (2/1), membenarkan anaknya telah menikah dengan orang asing. Namun saat ditanya apakah menantunya pekerja di Desa Morosi, Kasim membantah. “Manantu saya lama di Surabaya, namun sering pulang balik di Cina,” ujarnya.

Ayah Filla juga mengatakan, pernikahan anaknya dengan orang asing tersebut dilakukan secara baik-baik. Bahkan, menantunya mau masuk Islam sebagai syarat untuk menikahi wanita yang baru saja tamat SMA itu. Pernikahan mereka berlangsung 12 Desember 2016 dengan pesta menggunakan adat lokal. “Saya nikahkan anak saya dengan cara baik-baik. Kepala Desa, Tokoh agama, Penghulu dan aparat desa lainnya ikut hadir menyaksikan pernikahan anak saya. Bahkan, saya membuat surat pernyataan di atas kertas materai, bahwa saya telah yakin untuk menikahkan mereka,” paparnya.

Sungkowo (50), warga Lokal membenarkan adanya pernikahan yang dilakukan oleh warga lokal dengan para pria TKA. Menurutnya sudah ada empat wanita lokal yang menikah dengan para TKA. Bahkan pihak kantor urusan Agam (KUA) setempat memberikan syarat kepada warga asing yang ingin mempersunting wanita lokal, yaitu dengan menyetor uang sebesar Rp 50 Juta. Uang tersebut akan disimpan di rekening wanita yang akan menjadi istri TKA itu. Uang itu menjadi jaminan selama dua tahun. Bila telah sampai pada batas waktunya, uang tersebut akan dimiliki oleh istri TKA. “Hampir sama dengan kawin kontrak, agar tidak dikatakan zina jadi mereka menikah saja. Bila dua tahun atau lebih para TKA pulang ke kampung halamannya tidak apa-apa yang penting sudah resiko,” paparnya.

Bila para TKA dipersulit untuk melakukan pernikahan di Desa Morosi karena banyaknya birokrasi yang harus dilakukan, mereka ke daerah lain. “Ada yang menikah di Kendari,” ujarnya.

Selain fenomena pernikahan orang asing dengan warga lokal, fenomena lainnya adalah beredarkan mata uang Yuan di Desa tersebut. Suyati (45) tahun contohnya, dirinya mempunyai beberapa lembar uang Yuan dengan pecahan 10 Yuan dan beberapa uang koin. Uang tersebut didapatkan dari para TKA, sebagai imbalan saat dirinya waktu masih menjadi buruh cuci di mest para TKA di dalam pabrik Smelter. “Hampir semua orang sini sudah punya uang Yuan, karena biasanya kalau para TKA kehabisan uang rupiah mereka bayarkan kami menggunakan uang Yuan,” paparnya. (komar)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
To Top