Wakatobi Diabadikan dalam Uang Rupiah Terbaru – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Ekonomi & Bisnis

Wakatobi Diabadikan dalam Uang Rupiah Terbaru

uang rupiah pecahan Rp. 10.000 terbaru, yang diluncurkan Senin (19/12).

uang rupiah pecahan Rp. 10.000 terbaru, yang diluncurkan Senin (19/12).

kendaripos.fajar.co.id,KENDARI–Sulawesi Tenggara menorehkan prestasi dalam pencetakan mata uang rupiah. Sepanjang sejarah, baru kali ini salah satu ikon di Sulawesi Tenggara masuk dalam gambar mata uang di negeri ini. Taman Nasional Wakatobi diabadikan dalam rupiah. Gambar surga nyata bawah laut tertera pada gambar nominal uang Rp 10 ribu yang baru saja diluncurkan Presiden RI dan Bank Indonesia.

Taman Nasional Wakatobi diresmikan tahun 1996. Total area mencapai 1,39 juta hektar. Terdapat 750 spisies koral dari 850 spesies di dunia. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili dan 93 jenis ikan. Berbagai keunikan dari laut Wakatobi menjadikan daerah tersebut masuk 10 top destinasi yang diatensi secara nasional.

Pada gambar uang kertas Rp 10 ribu, keindahan alam bawah laut Wakatobi menjadi salah satu ikonnya. Gambar tersebut menjadi latar bagian dari lembar uang bernilai Rp 10 ribu bersama gambar penari pakarena dari Makassar. Terhitung 19 Desember 2016, masyarakat Indonesia sudah bisa menggunakan pecahan uang tunai emisi terbaru. Uang dengan desain baru itu kemarin diluncurkan Presiden Joko Widodo di Gedung Thamrin Bank Indonesia. Ada tujuh uang kertas dan empat uang logam baru yang diluncurkan. Seluruhnya memajang gambar pahlawan yang berbeda dengan emisi sebelumnya, dan diklaim paling aman.

Pada emisi kali ini, untuk kali pertama seluruh desain uang tersebut berganti bersamaan. Uang baru yang diluncurkan terdiri dari uang kertas pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5 ribu, Rp 2 ribu dan seribu rupiah. Sementara uang logam terdiri dari pecahan seribu rupiah, Rp 500, Rp 200 dan Rp 100.

BACA JUGA :  Ada Palu Arit di Uang Rupiah? Ini Penjelasan Gubernur BI

Hanya satu yang masih dipertahankan, yakni gambar duet Proklamator Soekarno-Hata di pecahan Rp 100 ribu. Namun, dalam pecahan tersebut, Soekarno-Hatta dipasang dengan wajah tersenyum dan memperlihatkan gigi. Selebihnya adalah pahlawan yang berbeda.

Yakni, Ir H Djuanda Kartawidjaja, Dr G. S. S. J. Ratulangi, Frans Kaislepo, K. H. Idham Khalid, M. Hoesni Thamrin, dan Tjut Meutia. Sementara pada uang logam, nama-nama dan gambar pahlawan yang tercantum yakni Mr. I Gusti Ketut Pudja, Letjen TNI T. B. Simatupang, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Prof Dr Ir Herman Johannes.

Pada desain kali ini, warna yang digunkan tampak lebih cerah. Model pewarnaannya mirip beberapa mata uang asing seperti Euro atau Dolar Singapura. Berbeda dengan emisi sebelumnya yang cenderung tajam. Begitu pula dengan tulisan, kali ini ada frasa Negara Kesatuan Republik Indonesia di seluruh uang, setelah sebelumnya hanya ada di nominal Rp 100 ribu. Sehingga, tanda tangan Menkeu pun ada di seluruh nominal.

Setiap lembar uang menampilkan tiga gambar. Di satu sisi menampilkan gambar pahlawan. Di sisi sebaliknya, terpampang gambar penari Indonesia yang bersanding dengan pemandangan alam. Jokowi menjelaskan, pengunaan gambar pahlawan, tari nusantara, dan pemandangan alam Indonesia merupakan bagian kampanye budaya dan karakter bangsa.

BACA JUGA :  Uang Rupiah Pecahan Baru Beredar Hari Ini

Karena itu, dia mengajak masyarakat untuk selalu menggunakan rupiah dalam setiap transaksi di Indonesia. Aturan mengenai hal itu sudah ada. Juga, menyimpan tabungan dalam bentuk rupiah. ’’Dan penting saya sampaikan, kalau kita cinta rupiah maka kita tidak membuat dan menyebar gosip aneh dan kabar bohong tentang rupiah,’’ ujarnya.

Dia juga meminta unsur pengamanan rupiah terus diperkuat demi mencegah pemalsuan. ’’Teknologi pengamanan yang digunakan oleh negara jangan sampai kalah dengan para pemalsu rupiah,’’ lanjut mantan Wali Kota Solo itu. dia juga meminta ketersediaan rupiah harus terjaga hingga kawasan terpencil.

Pencantuman gambar pahlawan itu sesuai dengan Keputusan Presiden No. 31 Tahun 2016 tanggal 5 September 2016 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional Sebagai Gambar Utama Pada Bagian Depan Uang Rupiah Kertas dan Rupiah Logam NKRI. Selanjutnya, landasan hukum mengenai pemberlakuan, pengeluaran dan pengedaran uang rupiah tahun emisi 2016 diatur melalui 18 Peraturan BI.

Senada dengan Presiden, Gubernur BI Agus D. W. Martowardojo mengatakan, penggunaan gambar-gambar para pahlawan itu untuk menumbuhkan semangat patriotisme pada masyarakat. Dia juga berpesan agar kualitas uang rupiah perlu dirawat dengan baik, bukan hanya oleh bank sentral namun juga oleh masyarakat yang memiliki uang tersebut.
“Menjaga rupiah sama artinya dengan menjaga simbol negara, dan harus ditanamkan sejak dini. Masyarakat perlu mengurangi kebiasaan buruk. Tidak baik meremas, membasahi dan men-strapples uang-uang itu,” katanya saat peluncuran uang baru di kantor pusat BI kemarin.

BACA JUGA :  Ini Sosok Pahlawan di Pecahan Uang Baru

Uang kertas yang diedarkan BI berbahan dasar kertas khusus dari serat kelapa. Sedangkan uang logamnya terbuat dari nickel plated steel dan aluminium. Agus memaparkan, ada 9 hingga 12 pengaman pada uang kertas yang diedarkan. Unsur pengaman itu ada yang dengan mudah dapat diketahui oleh masyarakat, ada juga yang hanya bisa dikatahui oleh spesialis. “Tapi bentuk pengaman yang paling sederhana untuk disosialisasikan kepada masyarakat yaitu dilihat, diraba, diterawang,” ujar Agus.

Mantan Menteri Keuangan itu menambahkan, uang rupiah tahun emisi 2016 ini termasuk yang paling baik di dunia. Sebab jumlah pengamannya berlapis-lapis, mulai dari warna, benang, bagian ultra violetnya, juga teknik cetak khusus atau rectoverso-nya. Agus meyakinkan bahwa uang baru tahun emisi 2016 ini tidak akan mudah dipalsukan.

Masyarakat sudah bisa menukarkan uangnya dengan uang baru tersebut di 33 kantor perwakilan BI di berbagai provinsi. Agus memprediksi distribusi uang baru ini membutuhkan waktu tiga bulan untuk sampai ke pelosok daerah. “Tapi uang yang lama masih berlaku setidaknya sampai ada kelutusan peredarannya dihentikan. (Setelah) itu keputusan diambil, baru 10 tahun kemudian dicabut (peredaran uangnya). Sekarang belum ada rencana mencabut uang yang sudah beredar,” jelas Agus.
(byu/rin/jpg/aka)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top