Tamborasi, Sungai Terpendek di Dunia dengan 7 Wanita Cantik Penunggu – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Kolaka

Tamborasi, Sungai Terpendek di Dunia dengan 7 Wanita Cantik Penunggu

Sungai Tamborasi di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sungai Tamborasi di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.

MUNGKIN sudah banyak yang tahu. Salah satu sungai terpendek di dunia ada di Indonesia. Di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara tepatnya. Sungai Tamborasi namanya.

Dia hanya memiliki panjang sekitar 20 meter, lebar 15 meter. Namun beragam cerita mistik tak lepas dari keberadaan sungai ini.

Nama Tamborasi berasal dari bahasa Tolaki yaitu Pomboraasi atau pengadangan. Nama itu melekat karena menjadi batas untuk menghalau penjajah oleh pejuang terdahulu yang melintas di dua kabupaten (Kolaka-Kolut). Berbagai versi wujud dari dunia lain pun kerap menampakkan diri di sungai itu. Sebagian orang meyakininya menjadi jembatan mewujudkan impian.

Objek Wisata Permandian Tamborasi tidak hanya dikenal dengan airnya yang dingin dan mampu membuat raga menggigil. Namun, dari cerita orang-orang di sekitar, wisata alam ini banyak menyimpan mitos dan kisah horor yang membuat bulu kuduk merinding dan penasaran.

Tahun 1970 an, Tamborasi tidaklah begitu tenar bagi para penggiat wisata. Cukup berbeda saat ini, pengunjungnya di akhir pekan mencapai 200-an orang. Lokasinya masih tersembunyi, ditumbuhi pepohonan yang rimbun serta air jernih yang mengalir tenang dari dalam rongga bebatuan membuatnya terasa adem.

Tidak banyak orang yang memberanikan diri untuk berenang di sana karena penuh dengan aroma mistik. Terkecuali, bagi kalangan tertentu yang masih kental kepercayaan animisme-nya untuk meletakkan sesajen lewat panduan Lewe, orang yang pertama kali menjaga tempat itu.

Kadus IV Desa Tamborasi Saldi Ukkas bercerita, konon sebelum jalan Trans Sulawesi Kolaka-Kolut dibuka, sebagaian besar warga harus menggunakan transportasi laut. Banyak yang hendak merapat ke permandian itu namun tidak bisa karena merasa terhalau hembusan angin yang kencang dari arah muara pantai itu.

“Ini salah satu yang saya dengar dari mertua saya bernama Mamma yang usianya kurang lebih 100 tahun saat ini,” ujarnya seperti dikutip dari Kendari Pos, Selasa (29/11).

Menurut pria yang telah menetap puluhan tahun di situ, saking angkernya sebagaimana kisah yang juga dikutip Mamma dari almarhum Lewe, saat itu untuk masuk ke Tamborasi harus melapor ke Lewe. Tanpa Lewe, tak ada yang berani menginjakkan kaki di sana.

Beberapa ragam kelengkapan sesajen mulai dari beras ketan hitam, telur hingga daging ayam akan ditaruh di salah satu celah dinding batu sungai itu atau cukup dihanyutkan. Mereka percaya, saat menginginkan sesuatu, cukup mengikat tali keinginan itu di akar pohon maka keinginannya bisa terkabulkan.

Salah satu pelanggan setianya untuk melepas hajat berasal dari Sulawesi Selatan. Kebetulan, pertama kali ia ke sana dengan mengikat tali di akar pohon, impiannya terwujud. Lalu dia kembali lagi meletakkan sesajen sebagai bentuk balas jasa ke penunggu di sana.

“Setiap tahun dia datang. Mengikat sesuatu di akar pohon lalu berniat. Setelah terkabul, orang itu datang melepas talinya dan membawa sesajen. Tapi ada juga yang tidak datang-datang lagi,” beber pria yang tiga tahun menjabat Kepala Dusun di Tamborasi.

Salah satu penunggu yang banyak disebut-sebut orang yakni sosok tujuh perempuan yang kerap muncul di salah satu sungai kecil di gerbang wisata yang ditumbuhi pohon mangga.

Seorang warga yang kerap melihatnya yakni Arsad Daeng Mocolli.”Sosok itu tidak menakut-nakuti dan bahkan senang dengan orang yang rajin salat dan benci yang arogan, sombong lagi angkuh,” katanya.

Namun, bukan hanya sosok tujuh perempuan baik itu yang ada di sana. Saat melintasi objek wisata tersebut menuju Kolut, beberapa pengendara kerap dibuat merinding. Mereka menjumpai sosok jadi-jadian memotong jalan dan bahkan sengaja menahan pengendara.

Pernah suatu malam sekitar pukul 04.00 wita, berdiri seekor hewan di tepian jalan separuh kera dan kepalanya kambing. Hendak berputar tidaklah mungkin hingga ia berjalan menepi sembari dipelototi makhluk tersebut.

Parahnya lagi, pernah seorang pengendara lainnya pada malam hari ditahan oleh pria tua untuk dibonceng ke arah Kolut. Namun sebelum sampai di gerbang wisata Danau Biru atau tepatnya di gua curam, lelaki tua itu langsung menghilang.

“Pernah juga orang dari Kolaka mau ke Kolut. Pas di pertemuan pendakian ada perempuan berambut panjang duduk di jalan kena sorot lampu. Dia langsung putar balik karena di sana hutan dan tidak ada rumah,” kisahnya.

Pria kelahiran Desa Lari-lari Kecamatan Buah itu mengutarakan, saking mistiknya, banyak pula warga mempercayai air sungai itu sebagai penawar penyakit. Mereka akan mengisinya dalam botol dan membawa pulang ke rumah dengan keperluan macam-macam.

Hingga saat ini masih dijumpai sesajen dan tradisi ikat tali pada akar pohon di lokasi permandian untuk melepas hajat. Bahkan, belakangan kalangan muda-mudi pun mulai ikut-ikutan melakukan hal serupa dengan mengikat tali untuk menemukan jodoh.

Namun soal kisah angker itu saat ini sudah mulai pudar. Kini objek wisata sudah ditangani langsung oleh Dinas Parawisata setempat. Telah berdiri gazebo dan WC umum. Tempat ini juga kerap dijadikan tempat berkemah oleh kalangan pelajar.

Kadus berpesan agar siapa saja yang masuk ke wilayah itu harus sopan dan jangan mengusik. “Kalau melihat sesuatu (penampakan) malam hari jangan ditegur dan sopanlah di tempat angker karena banyak yang kerap kesurupan jika angkuh masuk ke sini,” pesan Saldi. (muhammad Rusli/jpnn)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top