Kompolnas akan Minta Irwasum Polri Kroscek Aksi Penyerangan Polisi ke SMKN 2 Raha – Kendari Pos Online
Iklan DPRD
HEADLINE NEWS

Kompolnas akan Minta Irwasum Polri Kroscek Aksi Penyerangan Polisi ke SMKN 2 Raha

Anggota Kompolnas, Poengky Indarti SH LLM

Anggota Kompolnas, Poengky Indarti SH LLM

KENDARIPOS.CO.ID,JAKARTA—Aksi tidak elok yang dilakukan sejumlah oknum anggota Satdalmas Polres Muna terhadap siswa SMKN 2 Raha, 24 November lalu, menuai kecaman dari Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Tindakan kekerasan tersebut dinilai tidak pantas dilakukan oleh mereka yang harusnya bertugas melindungi dan mengayomi masyarakat. Kompolnas mendesak agar persoalan tersebut mendapat perhatian serius dan diusut hingga tuntas.

Anggota Kompolnas, Poengky Indarti SH LLM menyesalkan dugaan aksi kekerasan yang dilakukan oknum polisi di Muna. Mereka mestinya tidak boleh memasuki area lembaga pendidikan dan melakukan penyerangan terhadap siswa. Kalaupun mereka (polisi, red) merasa dilempar oleh siswa SMKN 2 Raha, kata dia, mereka tidak dibenarkan melakukan tindakan main hakim sendiri. Harusnya, polisi itu menemui pihak yang bertanggung jawab di sekolah tersebut. Mereka harus mencari tahu siapa siswa yang melemparkan batu ke arah polisi. “Kita sangat sesalkan ada aparat kepolisian yang melakukan kekerasan dengan masuk dan melakukan penyerangan terhadap siswa SMKN 2 Raha,” kata Poengky Indarti saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (28/11).

Kompolnas, lanjutnya, meminta Kapolda Sultra turun tangan menangani persoalan ini dengan serius. Lembaganya juga akan meminta Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri untuk turun melakukan kroscek terhadap kejadian itu. Kata Poengky sapaan Poengky Indarti, Kompolnas mendesak Propam memeriksa oknum yang diduga melakukan kekerasan terhadap peserta didik. Proses pemeriksaannya diharapkan tidak hanya berhenti di tingkat sanksi disiplin dan kode etik Polri. Apabila dalam pemeriksaan ditemukan unsur pidana dalam kasus tersebut, maka mereka yang melakukan penyerangan terhadap siswa dikenakan sanksi pidana.

BACA JUGA :  Brutal, Belasan Polisi Membabi Buta Pukul Siswa SMKN 2 Raha yang Sedang Belajar

“Tugas polisi adalah aparat yang mengayomi, melayani dan melindungi masyrakat. Jadi tidak boleh menggunakan kekerasan dalam menjalankan tugasnya. Tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oknum polisi di Polres Muna sangat memalukan,” ungkap mantan aktivis Kontras itu.

Ia juga berharap agar masyarakat sebagai pihak yang memantau kinerja polisi, harus terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Jangan sampai para pelaku penyerangan siswa bisa bebas. Dengan begitu aparat kepolisian yang lain tidak melakukan tindakan yang sama. Ia juga menyarankan agar persoalan tersebut dilaporkan ke Kompolnas, Kapolri dan Irwasum. Sehingga ada titik kejelasan dari penanganan persoalan dugaan penyerangan siswa SMKN 2 Raha yang dilakukan oknum polisi di Polres Muna. “Korban bisa menyampaikan ke kami melalui surat saja,” ujarnya.

BACA JUGA :  Buntut Penyerbuan Polisi ke SMKN 2 Raha, Kapolres Muna Minta Maaf

Insiden penyerbuan anggota Dalmas Polres Muna terhadap siswa SMKN 2 Raha, Kamis (24/11) lalu, terus menuai tanggapan berbagai pihak. Anggota DPR RI, Ridwan BAE, ikut menyesalkan aksi tersebut. Ia pun meminta agar Kapolres, sebagai penanggung jawab wilayah dan pimpinan para Bhayangkara muda itu, untuk bertanggung jawab. Aksi itu, bukan saja melanggar hukum tapi mencederai nilai-nilai pendidikan. v“Saya kira Kapolda tahu apa yang harus ia lakukan terhadap peristiwa ini. Berbahaya sekali kalau ada Kapolres yang membiarkan anak buahnya melakukan aksi brutal seperti itu. Harus ada proses hukum dan etika dalam perkara ini. Copot Kapolresnya kalau perlu,” desak Ridwan. Ia mengaku mendapat laporan dan aduan dari para guru di SMKN 2 Raha, karena mereka benar-benar trauma secara psikologis.

Sebagai orang yang pernah memimpin Muna, Ridwan sangat menyayangkan hal-hal seperti ini terjadi. Beberapa Kapolres yang pernah bekerja sama dengannya saat ia menjadi Bupati Muna, semuanya melakukan penindakan hukum sesuai prosedur bila ada yang melakukan pelanggaran. Tapi yang terjadi di SMKN 2, justru bertolak belakang dengan konsep polisi yang profesional. Yang terlihat justru aparat yang bertindak serampangan. “Mungkin anak-anak itu (siswa SMKN 2 Raha) salah ya. Tapi mereka itu kan dalam proses belajar. Bukan hanya ilmu tapi juga karakter. Penanganannya juga harus berbeda. Kenapa tidak panggil gurunya atau orang tuanya? Tentu setelah terlebih dahulu mengidentifikasi siapa yang nakal dengan melempar batu ke arah polisi. Jangan main hajar sembarang dong. Menegakan hukum kok dengan melanggar hukum,” sindir mantan Bupati Muna itu.

BACA JUGA :  Baru Dua Polisi Teridentifikasi Pemukulan Siswa SMKN 2 Raha

Ia berharap Kapolda Sultra mengambil sikap tegas dalam kasus ini. Sikap Kapolres Muna yang sudah menyatakan permintaan maaf, patut dihargai tapi tidak berarti masalah selesai. Para polisi yang melakukan aksi penyerbuan ke SMKN 2 itu tetaplah harus diproses hukum, dan tentu saja sanksi disiplin. “Kapolresnya saya kira juga harus bertanggungjawab. Tidak mungkin polisi-polisi itu bertindak brutal karena mereka selalu diberi pembinaan tentang polisi humanis dan mengayomi,” tandasnya. Ridwan berjanji akan menyampaikan masalah ini ke Kapolri, lewat Komisi III DPR RI agar ada perhatian serius terhadap kasus di Muna. Bagaimanapun, kata Ridwan, sekolah itu adalah institusi yang harus dihormati marwahnya. (ramadan)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
To Top