200 Orang di Koltim jadi Korban Dimas Kanjeng – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
Zetizen Iklan Iklan 10 Iklan 23
HEADLINE NEWS

200 Orang di Koltim jadi Korban Dimas Kanjeng

Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat dikeler Unit Jatanras Polda Jatim untuk dimintai keterangan di Mapolda Jatim, Rabu (28/9). Foto: Dite Surendra/Jawa Pos

Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Foto: Dok JPNN

kendaripos.fajar.co.id,TIRAWUTA—Warga Sulawesi Tenggara (Sultra) yang menjadi korban pada kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi mulai tersingkap. Tak sedikit masyarakat Sultra yang membayar mahar penggadaan uang selama ini. Namun, para pemburu harta melalui alam gaib itu masih enggan buka mulut.

Korban Dimas Kanjeng mulai teridentifikasi di Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sultra. Hanya satu kecamatan saja, korban Dimas Kanjeng mencapai 200 orang. Mereka telah membayar mahar sebesar Rp 1.350.000 per orang untuk anggota biasa. Sementara, mereka yang berposisi pada jenjang anggota yang ditokohkan, wajib membayar mahar minimal Rp 5 juta per orang.

Impian dari para korban tersebut berharap agar pengasuh padepokan di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur itu bisa menggandakan pembayaran mahar mereka sepuluh kali lipat. Janji manis pun mereka terima. Dengan pembayaran mahar Rp 1 juta, mereka bisa mendapatkan Rp 100 juta.

Jaringan Dimas Kanjeng masuk ke Koltim sejak tahun 2012 melalui Marwah Daud. Namun sampai saat ini, pembayaran mahar yang dilakukan warga Lambandia belum mendapatkan hasil.

Koordinator wilayah Koltim yang membawa pembayaran mahar ke Dimas Kanjeng bernama H Nyompa. Dia merupakan warga Desa Mokupa, Kecamatan Lambandia, Koltim yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Entah seperti apa awalnya H Nyompa menjadi pengikut Dimas Kanjeng, namun warga Koltim itu intens membangun komunikasi dengan Marwah Daud. H Nyompa dibantu oleh Yunus, seorang PNS di Koltim.

Pengakuan Yunus, ajakan Dimas Kanjeng Taat Pribadi pertama kali dibawa oleh H Nyompa di desa tersebut sejak tahun 2012. Selama 4 tahun “bersosialisasi”, warga yang berhasil direkrut hingga saat ini mencapai 200 orang. “Itu hanya di Kecamatan Lambandia saja. Saya menjadi pengikut Dimas Kanjeng sejak tahun 2012. 200 orang yang berhasil bergabung, sebanyak 130 orang memang sudah lama berdomisili di desa ini. Sementara sisanya, mereka adalah warga Sulsel yang hijrah ke Koltim,” ungkap Yunus.

Selama ini, lanjut Yunus, pertemuan intens sering digelar di kediaman H Nyompa (Desa Mokupa, red). Pertemuan dilakukan atas instruksi Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang membangun komunikasi dengan H Nyompa melalui telepon selular. “Memang H Nyompa yang rutin berkomunikasi langsung dengan Dimas Kanjeng,” katanya.

Yunus juga berasal dari Sulsel. Dalam perekrutan pengikut Dimas Kanjeng, dibebankan pembayaran mahar. “Mahar Rp 1.350.000 itu merupakan sumbangan untuk pembangunan padepokan di Probolinggo (padepokan Dimas Kanjeng, red). Itu ikhlas. Kalau dikalkulasi, semua bisa mencapai Rp 400 jutaan. Kami belum pernah merasakan kerugian sama sekali dari ajaran Kanjeng, makanya sampai saat belum ada yang melapor ke polisi,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Tanjung, korban lainnya turut bercerita tentang kehadiran pengikut Dimas Kanjeng di Koltim. Tanjung bersama keluarganya telah menyetor mahar senilai Rp 42 juta ke Dimas Kanjeng melalui H Nyompa. “Itu sejak tahun 2012. Janjinya, uang itu akan bertambah ketika ada rezeki dari Tuhan. Setiap Rp 1 juta akan berlipat ganda menjadi Rp 100 juta,” ungkap Tanjung saat ditemui di kediamannya, Senin (10/10).

Pria berusia 80 tahun itu menjelaskan, pertemuan di rumah H Nyompa rutin dilaksanakan setiap Malam Jumaat. “Kami melakukan istighosa atau berdoa bersama sesuai yang dinstruksikan Kanjeng melalui H Nyompa sebagai perwakilan di Sultra. Yunus biasa mengantikan H Nyompa memandu istighosa jika H Nyompa tidak ada,” katanya.

Tanjung mengaku ikut dalam kelompok tersebut atas ajakan H Nyompa dan Yunus. Mereka dijanji akan dilipatgandakan mahar yang diberikan. “Kegiatan itu dikemas seolah menjadi tempat kajian agama,” ujarnya.

Sementara itu, Polsek Lambadia belum menerima laporan dugaan penipuan kasus penggandaan uang yang dilakukan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Meski demikian, kepolisian sedang melakukan penyelidikan terkait adanya informasi korban Dimas Kanjeng di daerah tersebut. “Secara resmi, belum ada yang melapor,” ujar Ipda Sumantri, Kapolsek Lambandia, Senin (10/10).(kusdin)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top