Nur Alam, Gubernur dengan Segudang Prestasi yang Ditersangkakan KPK (1) – Kendari Pos Online
Opini

Nur Alam, Gubernur dengan Segudang Prestasi yang Ditersangkakan KPK (1)

Gubernur Nur Alam

Gubernur Nur Alam

KENDARIPOS.CO.IDH Nur Alam SE MSi, putra kelahiran Konda, 9 Juli 1967, mencatatkan dirinya sebagai gubernur pertama hasil pilihan rakyat saat berusia 40 tahun. Dia bersama pasangannya, Brigjen Purn. H Saleh Lasata mengalahkan Ali Mazi SH-Abdul Samad, dengan suara yang sangat signifikan. Padahal, Ali Mazi, saat itu adalah calon gubernur incumbent. Kemenangan itu juga dikukuhkan Mahkamah Agung (MA), menyusul langkah hukum yang diambil pasangan AZIMAD (Ali Mazi-Abdul Samad).

Pasangan dengan akronim NUSA (Nur Alam – Saleh Lasata) pun dilantik oleh Mendagri RI, Mardianto pada 18 Februari 2008. Pasca dilantik Nur Alam langsung tancap gas membangun Sultra. Sejumlah program pembangunan sebagaimana yang tercantum dalam visi misinya berusaha diwujudkan. Hal itu tentu bukan perkara mudah, mengingat pembahasan APBD telah dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya. Apalagi, posisi APBD  di tahun 2008 itu hanya pada kisaran Rp.700 M, bahkan ada difisit sebesar Rp 300 miliar.

Dalam kondisi itu, Nur Alam tentu tidak dapat mewujudkan berbagai program pembangunan yang telah dijanjikan pada masa kampanye kepada rakyatnya. Dia pun putar otak, berpikir dan bertindak cerdas. Nur Alam mengorbankan kenyamanan sebagai gubernur dengan hanya duduk di belakang meja dan mengotak-atik APBD yang telah ada. Bolak balik dari satu kementrian dan lembaga ke kementrian dan lembaga lainnya untuk memperjuangkan berbagai program pembangunan untuk kemajuan Sultra, dilakukan. Lobi tingkat tinggi dengan sejumlah pengusaha baik dalam dan luar negeri pun digencarkan. Singkatnya, sol sepatu Nur Alam menjadi tipis untuk menyusuri sejumlah kantor kementrian dan lembaga, termasuk melobi sejumlah pengusaha daerah ini agar pembangunan di Sultra bisa bergerak. Dahi yang semula mulus menjadi mengkrut, rambut dan kumisnya pun begitu cepat berubah warna menjadi putih. Semua itu, didedikasikan untuk percepatan pembangunan Sultra.

Hasilnya, berbagai program pembangunan diwujudkan satu persatu. Peluncuran program utama Pambangunan Masyarakat Sejahtera atau yang popular dengan Bahteramas, misalnya, telah dilakukan pada tahun pertama  pemerintahannya, 2008. Program Bahteramas dimaksud meliputi pemberian bantuan operasional pendidikan (BOP) hingga SMA, Pemberian Bantuan Kesehatan dan rawat inap gratis bagi pasien kelas III, dan pemberian blockgrand Rp100 juta bagi desa se Sultra.

Pada perkembangan program itu selanjutnya menghasilkan berbagai terobosan pembangunan lain. Pemberian block grand bagi desa se Sultra, misalnya, berkembang dengan berdirinya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bahteramas di sejumlah kabupaten di Sultra. Pemberian BOP menjadikan Sultra sebagai daerah percontohan nasional pendidikan 12 tahun. Program BOP ini pun ditingkatkan dengan program Cerdas Sultra. Ribuan mahasiswa di Sultra melanjutkan pendidikannya ke sejumlah universitas, yang tentu saja terbanyak di Unisula, Jawa Tengah. Demikian juga program kesehatan hingga rawat inap gratis, yang juga memberikan peningkatan intensif kesejahteraan bagi para medis dan dokter. Dalam tuntutan peningkatan pelayanan jugalah, sehingga pembangunan rumah sakit dengan konsep “garden hospital” dibangun di Kelurahan Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari.

Keberhasilan dan perkembangan program Bahteramas itu mengingatkan kita pada pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sewaktu peluncuran program dimaksud. “Kalau seluruh gubernur, bupati dan walikota memiliki gagasan dan terobosan pembangunan yang cerdas yakni program Bahteramas tadi, maka otonomi daerah akan berhasil. Daerah tidak akan tergantung dengan pusat lagi, maka daerah dan negara ini pasti maju, dengan rida Allah SWT tentunya”.

Tentu saja menjadi pertanyaan besar, bagaimana mungkin Nur Alam bisa menggerakkan roda pembangunan di Sultra dengan dana yang demikian terbatas. Inilah kelebihan seorang pemimpin yang memiliki kegigihan, kecerdasan, dan mimpi besar seperti Nur Alam.

Ketika Sultra dililit keterbatasan anggaran, Nur Alam tak hanya bolak balik kementrian agar sejumlah program pembangunan dikucurkan di Sultra. Tapi juga menggencarkan lobi tingkat tinggi untuk menekan sejumlah perusahaan raksasa yang telah lama beroperasi di daerah ini tetapi tidak berkontribusi optimal bagi pembangunan Sultra dan masyarakatnya.

Material untuk pembangunan jembatan telah siap di lokasi. Salah satu masalah yang muncul di lapangan menyangkut adanya warga yang belum sepakat terkait ganti rugi lahan.

Material untuk pembangunan jembatan Bahteramas Teluk Kendari

PT Antam Tbk, misalnya, perusahaan BUMN itu telah puluhan tahun mengeruk rejeki dari bumi Sultra, namun ternyata hanya memberikan tetesan rejeki bagi daerah ini pun diminta memberikan kontribusi yang signifikan. Mewujudkan hal itu ternyata tak semudah membalik telapak tangan, diplomasi, adu argumentasi dan lobi tingkat tinggi dilakukan dari kementrian ESDM, BUMN hingga Direksi PT Antam Tbk harus dilakukan berkali-kali. Untunglah, perjuangan itu membuahkan hasil, karena PT Antam Tbk akhirnya “terpaksa” mengucurkan dananya. Dana itulah yang menopang APBD Sultra untuk kemudian dikucurkan membiayai program utama Bahteramas, dan program pembangunan lainnya. Terkini, Nur Alam juga meminta PT Antam Tbk berkontribusi membangun Sarana Olahraga (SOR) di Sultra, sebagai penganti stadion Lakidende yang telah usur.

Perjuangan tak kalah beratnya ketika menghadapi PT INCO, yang kini berubah nama menjadi PT Vale Indonesia. PT INCO adalah perusaan pertambangan yang menguasai puluhan ribu konsesi lahan di Sultra. Lahan itu dibiarkan terlantar sebagai lahan tidur, karena tidak bisa dimanfaatkan oleh rakyat dan pemerintah Sultra. “Rakyat dan Pemerintah Sultra Bukan Penjaga Kebun Investor Asing”. Kalimat itu selalu ditegaskan Nur Alam dalam setiap pidatonya untuk menyindir keberadaan PT INCO di Sultra. Perjuangan panjang yang melelahkan dan mengurus energi dan pemikiran itu pun membuahkan hasil yang cukup baik. PT INCO kemudian menyerahkan sejumlah lahan konsesinya untuk diatur pemanfaatannya oleh pemerintah provinsi Sultra.

Itu hanyalah dua contoh bagaimana cara seorang Nur Alam berjuang keras membangun daerah ini. Kinerja itu pun membuka mata kita betapa percepatan pembangunan terjadi diberbagai lini. Indikator pembangunan yang diukur dari pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan, tumbuh dua hingga tiga digit di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, angka pengangguran menurun signifikan, dana pembangunan pun meningkat dari tahun ke tahun.

Rumah Sakit Umum Bahteramas di Watubangga, salah satu mega proyek yang terbangun di era kepemimpinan Nur Alam-Saleh Lasata.

Rumah Sakit Umum Bahteramas di Watubangga, salah satu mega proyek yang terbangun di era kepemimpinan Nur Alam-Saleh Lasata.

Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan terbangun merata di seluruh Sultra. Jalan dua jalur yang rata dan mulus bukan menjadi pemandangan asing lagi. Jembatan terpanjang di Uluiwoi yang menghubungkan Kabupaten Konawe dan Kolaka Timur terbangung, jembatan Lowulowu yang menghubungkan Pulau Makassar dan daratan Baubau kini telah dinikmati masyarakat. Rumah Sakit Bahteramas telah berdiri megah, pelabuhan Bungku Toko segera beroperasi,  Masjid Al Alam terus dibangun, destinasi wisata Pulau Bokori kini begitu nyaman, pusat perkantoran Pemprov Sultra telah berdiri megah di lokasi Bumi Praja Andounuhu. Terkini telah dilakukan groundbreaking pembangunan Jembatan Bahteramas Teluk Kendari yang melintasi kawasan kota lama menyebrangi Teluk Kendari hingga ke Kelurahan Lapulu, Kecematan Abeli. Mewujudkan jembatan ini bukanlah urusan mudah, terwujud setelah delapan tahun diperjuangkan.

Buah dari kerja keras yang dilakukan pemerintah itu melahirkan kepercayaan pengusaha untuk masuk berinvestasi di Sultra. Sejumlah hotel megah telah berdiri, pusat perbelanjaan yang refresentatif pun mewarnai kota. Rumah tokoh yang semula hanya ada di kota lama hingga Mandonga, kini telah merata di Kota Kendari. Tak mengherankan bila banyak orang yang memuji perkembangan dan kemajuan yang dicapai Sultra dalam delapan tahun terakhir.

Pertumbuhan dan berbagai kemajuan itu tentu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi ada orang-orang yang berpikir, bekerja dan bermimpi besar di belakangnya. Menjadi hal wajarlah bila sang gubernur mendapat banyak penghargaan, baik dari organisasi, lembaga maupun dari Negara. Salah satu penghargaan yang sangat prestisius itu adalah pemberian Bintang Maha Putra Utama dari pemerintah RI kepada H Nur Alam SE MSi atas jasa-jasanya dalam memajukan ekonomi di Sultra. Nur Alam menjadi satu-satunya orang di Sultra yang telah meraih Bintang Maha Putra utama itu.

Tak hanya Presiden SBY, kinerja Nur Alam yang begitu prestisius dengan gagasan brilian juga telah mendapat pujian dari Presiden Joko Widodo.

“Saya senang punya gubernur seperti Pak Nur Alam ini. Dia punya mimpi besar, seperti pembanguna jembatan Bahteramas tadi, dan Indonesia butuh pemimpin seperti dirinya”. Kutipan kalimat itu diungkapkan Presiden Jokowi di acara Kagama yang dipusatkan di Sultra tahun 2015. Banyak lagi pujian yang dilontarkan sang presiden terhadap gubernurnya yang dianggapnya visioner itu.

Gubernur Nur Alam, saat meninjau perkembangan pembangun Masji Al Alam di Teluk Kendari, Juni 2016.

Gubernur Nur Alam, saat meninjau perkembangan pembangun Masji Al Alam di Teluk Kendari, Juni 2016.

Ya…Jokowi memang benar. Nur Alam yang semula banyak dicibir orang karena berbagai ide dan gagasan pembangunannya yang dianggap mustahil, ternyata kini telah berhasil mewujudkannya. Terkini dia masih ingin mewujudkan sejumlah proyek pembangunan dengan  launching enam mega proyek yakni, pembangunan Bendungan Ladongi, PLTU Tanjung Tiram di Moramo, pembangunan Building Trade Centre di eks RSUD Provinsi, pembangunan BPD Tower 14 lantai,  pembangunan sarana olahraga (SOR) Nangananga, dan lounching pembangunan new port Bungkutoko.

“Semua telah kita kerjakan, semoga ini bisa dinikmati masyarakat Sultra, dan menjadi amal baik yang bernilai ibadah yang bisa diterima oleh Allah SWT,” kata Nur Alam seraya mengangkat kedua tangannya berdoa kepada Allah SWT lalu menyapu ke wajah dan badannya, Minggu (21/8/2016).

Apakah bapak puas dengan pencapain kinerja itu? “Ada yang belum memuaskan, kita belum bisa mewujudkan kawasan industri yang terpadu, padahal kita memiliki kekayaan alam yang melimpah,” katanya.

Sayangnya, ketika Nur Alam masih ingin mewujudkan mimpinya mengawal pembangunan daerahnya, ternyata ujian berat telah datang menghadang. Komisi Anti Korupsi (KPK) menjadikannya tersangka  dalam penerbitan izin usaha pertambangan di Kabaena Kabupaten Bombana. Nur Alam hanya menerbitkan satu izin dari 500 lebih izin pertambangan di Sultra, dan satu izin itulah yang dijadikan pintu masuk untuk menghentikan kiprah seorang Nur Alam dalam membangun daerahnya. (Sawal Lakawa/bersambung)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top