Bidan di Kolut Ini Naik Turun Gunung Demi Pasien – Kendari Pos Online
Kolaka Utara

Bidan di Kolut Ini Naik Turun Gunung Demi Pasien

Bidan Mirnawati yang berusaha di medan yang sulit. Foto: Kendari Pos/Jawa Pos

Bidan Mirnawati yang berusaha di medan yang sulit. Foto: Kendari Pos/Jawa Pos

Sosok Mirnawati patut menjadi teladan bagi rekan seprofesinya. Sebagai bidan, dia naik-turun gunung demi membantu persalinan warga di empat dusun.

MUHAMMAD RUSLI, Kolaka Utara

SEBELUM suara azan Subuh berkumandang di antara kawah-kawah pegunungan di Desa Nimbuneha, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, Mirnawati terjaga dari tidur lelapnya. Suasana yang dingin dia abaikan saat mengambil wudu untuk menegakkan salat Subuh.

Hal itu dia lakukan sebelum terjun ke lapangan untuk mengunjungi para pasien yang membutuhkan pertolongan untuk menjemput kebahagiaan para ibu untuk menimang-nimang si buah hati yang terlahir ke dunia. Dengan motor bebek tipe tunggangan laki-laki, dirinya berkendara kurang lebih 20 kilometer menjajaki jalan yang ekstrem.

Bagi dia, hal tersebut masih lebih ringan daripada pengalaman-pengalaman yang sebelumnya. Dia kali pertama mengabdikan diri di empat dusun (1, 2, 3, dan 4) wilayah itu.

Saat dijumpai Kendari Pos (Jawa Pos Group) pada Rabu (3/8), Mirnawati terjatuh dari kendaraannya karena kondisi jalan yang tak rata. Seorang warga mencoba membangunkan dia dari rebahan besi tua yang ditunggangi selama ini.

”Jatuh sudah sering, itu sudah biasa. Waktu pertama-pertama mengabdi, saya kadang muntah karena capek berjalan,” kata Mimi, sapaan karib Mirnawati.

Perempuan alumnus Akademi Kebidanan (Akbid) Minasaupa, Makassar, Sulawesi selatan, tersebut lebih banyak bercerita pengalamannya saat mengabdi di daerah pelosok daripada saat bertugas di kota-kota dengan fasilitas yang memadai. Suatu ketika dia pernah berjalan puluhan kilometer dari rumah pasien hingga dia ditemukan tukang ojek pingsan di jalan.

”Mungkin saya lelah. Saya tidak tahu bagaimana saya dibawa tukang ojek ke mes di desa sana. Saat saya terbangun, sudah banyak orang di sekeliling,” ungkapnya.

Karena di desa tersebut belum ada puskemas pembantu (pustu), dia menetap di rumah salah seorang imam masjid di Dusun II. Mimi punya waktu terbuka 24 jam untuk dihubungi jika ada pasien yang hendak melahirkan.

Jika jalan dipastikan bisa dilalui saat siang, dia akan berkendara sendiri. Namun jika agak jauh, kadang Mimi menumpang pasien yang datang menjemput, baik siang maupun malam.

”Waswas itu ada. Kan saya tidak tahu niat seseorang yang mengantar. Apalagi, saya akan melewati banyak perkebunan tanpa rumah dan jarang orang melintas. Tapi, saya lebih berpikir bagaimana sampai ke rumah pasien secepatnya, lalu menanganinya,” ucapnya.

Istri Sapri Dona kelahiran 12 Januari 1988, Ammerung, Barru, Sulawesi Selatan, itu menyatakan, dia kadang berjalan hingga berjam-jam melintasi kebun-kebun kakao warga seorang diri. Maklum, tidak banyak rumah untuk tempat singgah hingga kadang dia membuka bekal di bawah naungan pohon-pohon perkebunan tersebut.

Namun, siapa sangka, dengan modal ramah senyum, dia cukup dikenal akrab warga setempat, baik anak-anak maupun orang tua.

Hanya sekali dia menemui cobaan, yaitu ketika berkunjung ke rumah warga saat hujan. Jalan pasti licin dan berlumpur. Kulit yang lecet dan bengkak karena terbentur kerap dialami Mimi. Karena mencintai profesi yang dipandangnya mulia, bagi dia, itu bukan halangan.

Bertahun-tahun mengabdi di sana, bidan Mimi sudah akrab di mata masyarakat. Warga di sana menyukai perempuan itu. Warga kerap mengancam ingin berdemo kepada aparat setempat jika Mimi dipindahtugaskan dari desa tersebut. ”Inilah yang saya maksud,” tuturnya. (*/JPG/c5/diq)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top