Ada Habib di Pulau Labengki – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Konawe Utara

Ada Habib di Pulau Labengki

sejumlah penginapan yang dibangun pengusaha di Pulau Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara

sejumlah penginapan yang dibangun pengusaha di Pulau Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara

kendaripos.fajar.co.id,WANGGUDU—Riak-riak terhadap hadirnya investor mengelola Pulau Labengki sebagai objek wisata terus bergolak. Saling tuding, saling menyalahkan antar pihak pun tak terelakkan. Bahkan, sorotan terhadap keterlibatan BKSDA Sultra yang dianggap terlibat dalam persoalan tersebut menjadi perhatian publik. Namun, investor dan BKSDA tentu membela diri dari tudingan-tudingan tersebut. Apa sih yang membuat Pulau Labengki menjadi daya tarik? Tim Konservasi Taman Laut Kima Tolitoli melihat potensi Labengki sebagai wilayah potensial untuk objek wisata. Labengki dianggap sebagai miniatur Raja Ampat. Tim tersebut memberi julukan baru Pulau Labengki dengan nama Lembah Seribu.

Habib Nadjar Buduha sebagai pengembang wisata Labengki sangat terpikat. Deretan karang alami yang mengelilingi pulau. Air laut yang begitu bening makin menambah keindahannya. Lubang berbetuk sumur raksasa ini memiliki luas sekira 250 meter persegi. Kedalamannya belum diketahui. Lubang itu dinamakan Labengki Blue Hole. Hal lain yang dinilai bisa menambah daya tarik wisatawan adalah landscape gunung dan pantai. Berbagai karang terjal yang berhiaskan pantai berpasir putih terpampang di pulau ini.

Variasi obyek wisata alam pun banyak ditemukan di Pulau Labengki. Diantaranya, aneka species angrek. Ada sekira 5 species angrek yang tumbuh secara alami di kawasan ini. Utamanya jenis Anggrek Macan. Anggrek ini mekar sekali dalam setahun. Mulai akhir Desember hingga Maret. Potensi ini tentu akan menjadi “jualan” menarik.

Seorang kameramen sedang mengabadikan keindahan sejumlah pulau di Labengki

Seorang kameramen sedang mengabadikan keindahan sejumlah pulau di Labengki

Banyak keindahan lain dimiliki pulau ini. Pantas saja Pulau Labengki menarik diperbincangkan dan “diributkan”. Namun, bagaimana dengan keberadaan investor tanpa sepengetahuan pemerintah daerah itu? Labengki yang kini dilirik sebagai destinasi wisata di Kabupaten Konut sebelumnya dijadikan sebagai lokasi penangkaran kima oleh salah seorang pengembang bernama Habib. Bahan baku penangkaran kima yang dilakukan oleh Habib dibawa ke Toli-toli untuk pengembangannya. “Akhir 2009, saya sudah di Labengki untuk keperluan konservasi kima,” kata Habib saat dihubungi.
Saat ditanya penangkaran kima hingga dibawa ke pengembangan wisata, Habib beralibi bahwa keduanya memiliki keterkaitan. Habib beranggapan keduanya sama-sama untuk pengembangan konservasi. “Dua-duanya (kima dan wisata), kan kita bicara alam. Jadi sekarang konservasi kima sudah tertata dengan baik hingga menjadi objek wisata saat ini. Sedangkan untuk pengembangan wisata baru dilakukan tiga tahun yang lalu, tepatnya di 2013,” alibi Habib.

Habib beranggapan dalam konservasi kima ada dua hal yang dilakukan yakni eksitud konservasi dan insitud konservasi. Insitud, kata Habib, yakni melakukan penjagaan terhadap kawasan di wilayah Labengki, sedangkan eksitud melakukan relokasi terhadap habitat yang langka dilakukan penjagaan. “Jadi dari tempat yang tidak aman dipindahkan ke Toli-toli supaya dia menjadi aman,” katanya.

Terkait dengan perizinan, Habib, enggan terlalu jauh mengomentarinya. Alasannya, bahwa persoalan izin hanya regulasi. “Itu bukan domain saya, itu hanya masalah regulasi saja. Yang harus ngomong itu BKSDA, keliru pula kalau saya ngomong itu,” belanya.

Pulau Mahuang, salah satu pulau di Labengki yang begitu indah

Pulau Mahuang, salah satu pulau di Labengki yang begitu indah

Informasi yang dihimpun jika warga yang masuk di lokasi konservasi dilakukan pelarangan oleh pengembang wisata tanpa ada pesretujuan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra juga dibantah oleh Habib. Menurutnya tak ada pelarangan memasuki lokasi wisata di wilayah tersebut. “Contohnya, kalau naik motor harus menggunakan helm. Kurang lebih seperti itu. Sehingga harus mengacu pada standar aturan yang ada. Kan kalau mau masuk ke kawasan harus ada standar regulasi dari BKSDA. Supaya tidak ilegal masuknya, aturan yang mengatur seperti itu,” katanya.

Salah seorang pengembang wisata Labengki berbendera Pemerhati Terumbu Karang dan Wisata Alam (Pertuwam) melalui sekretarisnya, Kadir mengungkapkan pihaknya telah bekerjasama dengan BKSDA dalam pengelolaan Labengki. Namun pihaknya tidak melakukan pembangunan villa sebanyak-banyaknya seperti yang dilakukan pengembang wisata Labengki lainnya. “Kita tidak berencana membangun villa sebanyak-banyaknya. Karena yang kita pikirkan TAW nya. Apalah artinya kita membangun villa banyak-banyak. TAW nya dikemanakan, kan juga akan merusak konservasi yang ada. Karena orang mau berwisata hanya villa saja yang banyak,” katanya.

Kerjasama yang dilakukan oleh Pertuwan dan BKSDA sudah berlangsung sejak Februari 2015 lalu. Bahkan izin untuk pengembangan destinasi wisata diwilayah itu pengembang harus mengeluarkan budget sebesar Rp 6 juta rupiah untuk mengantongi izin dari BKSDA.

Kepala SKW II BKSDA Sultra, Darman S Hut MSc mengatakan tudingan penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan BKSDA sungguh tidak berdasar. Menurutnya, pemanfaatan kawasan yang dilakukan BKSDA dan investor sejauh ini sudah sesuai ketentuan. Sebagai kawasan konservasi yang dilindungi, gugusan Pulau Labengki dan sekitarnya memang bisa dijadikan TWA. Pengembangan TWA untuk kepentingan pariwisata seluas 81,8 ribu hektar ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan (Menhut) nomor SK.451/Kpts-II/1999.

Berdasarkan fungsi dan peraturan perundang-undangan, pengembangan TWA bisa dilakukan melalui mekanisme kerja sama dengan pihak swasta, kelompok masyarakat, BUMN-BUMD dan pemda setempat. Kerja sama ini bisa dalam bentuk penguatan kelembagaan, perlindungan dan pengawasan kawasan. Selain itu, pengembangan kawasan wisata alam, pemulihan ekosistem serta pemberdayaan masyarakat. Saat ini, BKSDA tengah melakukan kerja sama untuk mengembangkan TWA khususnya di Pulau Labengki melalui penguatan fungsi kawasan.

“Kerja sama ini melibatkan LSM Pemerhati Terumbu Karang dan Wisata Alam (Pertuwan) Konut, yayasan Konservasi Taman Laut Toli-toli, kelompok masyarakat, CV Wisata Pulau Labengki dan PT Labengki Nirwana Resort. Kami juga tahu diri. Sebab pengembangan destinasi wisata di TWA Teluk Lasolo harus melibatkan pemerintah daerah. Makanya, BKSDA tengah melakukan komunikasi dengan Pemkab Konut. Pak Bupati merespon positif. Beliau menantang kami untuk segera menyerahkan proposal perencanaannya. Jadi ada yang menuding kami jalan sendiri, itu tidak benar. Sebab masing-masing lembaga punya kewenangan. Makanya, kami ingin ini dikerjakan secara rame-rame,” katanya.

Kepala Resort BKSDA Konut, Akbar Syam membantah adanya penjualan pulau. Yang benar, pembayaran ganti rugi bangunan dan tanaman yang dilakukan investor. Pasalnya, kawasan konservasi memang tidak diperuntukan untuk kawasan pemukiman atau bercocok tanam. Apalagi kawasan ini memang akan dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan wisata. Meskipun yang melakukan ganti rugi adalah pihak swasta, namun status tanahnya masih lahan negara. (min/mal)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top