Strict Standards: Redefining already defined constructor for class Popular_Posts_Tabbed_Widget_Jetpack in /home/kendaripos/public_html/wp-content/plugins/popular-posts-tab-widget-for-jetpack/popular-posts-tab-widget-for-jetpack.php on line 61
Eksotisme Air Terjun Kandawu-ndawuna, Wisata Tua di Pulau Buton – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Buton

Eksotisme Air Terjun Kandawu-ndawuna, Wisata Tua di Pulau Buton

Buton tak hanya soal keraton dan benteng. Pulau itu menyimpan banyak keindahan alam yang tak kalah memesona. Pantai, goa, bahkan hutan dan juga air terjun di Buton bisa menenangkan hati bila melihatnya. Masih butuh perhatian pemerintah agar bisa tersohor dan dikunjungi orang

air terjun

Air terjun Kanduwa-Nduwana

Sudah tiga tahun lebih, Umar Samiun dan La Bakry menjadi Bupati dan Wakil Bupati Buton. Keduanya dilantik Agustus 2012 silam, dan langsung mencanangkan infrastruktur, parawisata dan kebudayaan sebagai program unggulan yang mereka kerjakan untuk lima tahun pemerintahan, yang bakal berakhir 2017 nanti. Hasilnya, silahkan lihat sendiri bagaiman ruas-ruas jalan di Kabupaten Buton yang mulai mulus teraspal.
Bagaimana dengan sektor parawisata? Di bawah kendali Zainuddin Napa sebagai Kepala Dinas Parawisata, bidang ini menyerap banyak anggaran. Berbagai even budaya guna memperkenalkan maha karya kebudayaan Buton di masa lampau digelar. Wisata pantai juga dibenahi termasuk area-area yang dianggap layak sebagai tempat snorkeling dan diving di Laut Pasarwajo. Tentu saja, belum semua bisa dijamah karena waktu, sumberdaya, anggaran dan prioritas.

Salah satu potensi wisata yang layak mendapat perhatian adalah air terjun Kandawu-dawuna. Anugerah Tuhan ini ada di tengah-tengah hutan di Desa Waondo Wolio Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton. Jaraknya sekitar 70 km dari Kota Baubau. Dari jalan poros, pengunjung harus menempuh 3 kilometer lagi untuk sampai di tempat eksotis itu. 2 kilometer bisa dilewati dengam roda dua ataupun roda empat, dan 1 kilometer lagi dengan berjalan kaki.

BACA JUGA :  Disambut Kompak, Menuju Badan Otorita Pariwisata Wakatobi

Tapi jangan bayangkan perjalanannya jadi mulus. Medannya cukup terjal, dan menantang adrenalin. Mereka yang jiwanya bukan seorang adventure, mungkin akan menyerah lebih awal sebelum sampai tujuan. Orang local menyebutnya jalan bubur kacang ijo. Sebab, sepanjang lintasan dipenuhi dengan lumpur setinggi 10 cm. Setiap yang datang akan membuka alas kaki dan berjalan dengan kaki telanjang. Duri-duri tumbuhan rotan akan menjadi peringatan kecil agar lebih berhati-hati.

Mendekati air terjun, pijakan mulai berbatu, bahkan ada dua titik yang jalannya harus menggunakan tali agar lebih aman turun. Namun, pangunjung akan lebih bersengat lagi sebab, gemuruh air mulai terdengar. Meski cuaca panas, pengunjung tak akan merasakan terik. Karena dedaunan rimbun akan melindungi. Jika tak ada aral, pengunjung akan tiba di lokasi dalam waktu kurang dari jam. Setelah itu sudah bisa minikmati keindahan air terjun Kandawu-dawuna secara langsung.

BACA JUGA :  Eneng Minta Maaf dan Eneng Sudah Hafal Pancasila

Disebut Kandawu-dawuna, karena topografi batunya yang membentuk anak tangga. Kandawu-dawuna diambil dari bahasa Wolio yang artinya jatuh dan jatuh. “Satu mata air ini, sebenarnya banyak air jatuhnya, yang biasa di pakai mandi orang-orang sini, tapi yang ini paling bagus, karena luas tempat berenangnya, dan paling tinggi air terjunnya,” jelas Idawati warga setempat.

Ketinggian air terjun Kandawu-ndawuna mencapai 40 meter. Kolam mandi utamanya berdiameter 20×20 meter dengan kedalaman 7 meter. Airnya begitu dingin seperti es, namun bagi warga sekitar suhu air itu biasa saja. Akan tetapi bagi pengunjung baru, hanya sekali nyebur sudah kedinginginan. Banyak yang memanfaatkan kayu hutan, membakarnya lalu menghangatkan diri.

Di musim penghujan, debit air sangat tinggi. Semua ruas batu akan dialiri. Berbeda dengan kemarau, debit airnya akan menurun namun akses jalannya lebih baik. Air terjun ini akan ramai setiap akhir pekan. Pengunjung akan mencapai ratusan orang. Terlebih, berwisata di kawasan ini tak dipungut biasa sepersen pun.

BACA JUGA :  Askesos Jamin Pekerja Mandiri Sektor Informal

Harapan warga setempat, Pemda segera membangun jalan menuju air terjun. Sebab, jika dikelola oleh Pemda maka wisatawan akan meningkat. “Sebenarnya ini air terjun sudah lama, hanya dulu jalannya jauh jadi jarang orang mau datang, mulai 3 tahun yang lalu orang sudah buka kebun tidak jauh dari tempat itu, makanya jalannya lebih dekat lagi. Ini bukan hanya orang Buton yang datang, orang dari Kolaka Muna Kendari juga sana sudah pernah datang. Pernah juga orang Barat datang. Tapi jalannya terlalu sulit jadi banyak yang kapok,” papar La Sirundu, warga yang mengaku hampir setiap minggu mengunjungi air terjun itu.

Kata warga, pernah sekali Bupati Buton Umar Samiun melihat langsung lokasi wisata. Saat itu orang Nomor 1 Buton itu menjanjikan akan mengaspal jalan tersebut. Namun hingga saat ini realisasinya belum 100 persen. “Sudah pengerasan 2 km, tinggal 1 kilo jalan masuk yang belum, katanya karena butuh anggaran besar, karena harus bangun beberapa jembatan lagi, banyak melewati kali,” tambah La Sirundu.(elyn ivo)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.





Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top