Selektif Memilih Pemimpin – Kendari Pos Online
Opini

Selektif Memilih Pemimpin

mantan-napi-nyalon-di-pilkada-seolah-bangsa-ini-kehabisan-pemimpin

Pemilihan Wali Kota Kendari (Pilwali) masih 11 bulan lagi digelar. Tepatnya pada medio Februari 2017. Pilwali terus menjadi isu hangat saat ini. Mulai tukang becak, supir angkot sampai politisi menjadikannya topik hangat saat diskusi. Tidak peduli dimanapun tempatnya, di kampus, pasar, posko pemenangan, tempat kerja, dan lebih-lebih di warung kopi pasti menjadi bahasan menarik.

Semua punya pendapat masing-masing tentang figur ideal yang layak menjadi suksesor Asrun di Kota Kendari. Sementara itu, bagi mereka yang punya keinginan maju Pilwali, tentu sudah menyiapkan diri. Meski masih berstatus bakal calon, namun sudah menyiapkan visi misi, strategi dan metode untuk memenangkan Pilwali nantinya. Mulai dari menyusun tim sukses, relawan hingga kepelosok, utamanya di lorong-lorong Kota Kendari. Yang jelas Pilwali kali ini bakal menarik. Sebab, para kandidat tidak ada satupun berstatus incumbent. Wali Kota Kendari, Ir Asrun sudah menjabat dua periode. Sehingga, secara aturan tidak dibolehkan lagi maju bertarung. Beda halnya dengan Wawali, Musadar Mappasomba masih bisa mencalonkan diri di Pilwali. Sudah banyak nama telah mencuat dipermukaan yang berniat maju di Pilwali.

Masyarakat Kendari sudah melihat wajah-wajah mereka terpampang di berbagai sudut kota, bahkan pusat kota juga tidak kalah banyak. Baliho mereka juga berseliweran di pohon-pohon maupun tiang listrik. Tentunya foto-foto terganteng maupun foto paling berwibawa dan merakyat lah yang dipajang. Mereka juga punya slogan-slogan maupun singkatan sebagai sebutan supaya mudah diingat. Harapannya tentu, kalau sudah diingat bisa dipilih nantinya. Beberapa calon mencuat, ada yang birokrasi tulen, anggota DPRD aktif, pengusaha. Ada masuk golongan tua, ada juga masih muda. Yang lebih menarik adalah ada salah satu calon yang masih sangat muda, tidak lain adalah anak wali kota Kendari. Dia saat ini masih menjabat sebagai anggota DPRD Sultra. Diusia yang masih sangat muda, dia berniat mengikuti bursa pemilihan calon wali kota nantinya.

Walaupun sempat diragukan karena belum berpengalaman tetapi dia yakin dapat memimpin kota ini berbekal ilmu yang didapat dari pengalaman berpolitik sang bapak. Muda memang bukan hambatan menjadi seorang pemimpin. Toh, sudah banyak orang muda di negeri ini mampu menjadi pemimpin dalam usia masih muda. Dalam beberapa literatur sejarah, sudah banyak contoh, betapa pemimpin muda mampu menjadi pemimpin hebat. Kendari juga begitu.

Perlu mengingat kembali bahwa dimana pun daerah ataupun kota ini dalam setiap ajang Pilkada bergulir selalu dikaitkan putra daerah dan bukan putra daerah. Asli sana asli sini. Orang apa dan sebagainya. Tapi berbeda dengan kabupaten lainnya yang ada di Sultra kota Kendari ini kehidupan warganya majemuk, yang tidak diisi oleh satu suku saja. Tanpa bermaksud mengangkat RAS, tetapi kalau diamati lebih jauh, inilah yang terjadi sebenarnya. Oleh sebab itu dari dulu setiap pasangan yang tampil dan berhasil lolos menjadi calon wali kota, selalu pasangan dan memiliki latar belakang berbeda. Semua itu tentu tidak ada salahnya juga. Paling penting adalah kapabilitas dan kualitas calon itu sendiri. Percuma orang daerah kalau track record kinerja, perjalananya karier dan kepribadiannya buruk alias jauh dari harapan masyarakat. Mending pilih orang lain yang lebih baik dan kita yakin dapat membawa kota Kendari menjadi lebih naik nantinya.

Begitupun sebaliknya, untuk apa memilih orang lain kalau se-suku dan kerabat dekat lebih mumpuni untuk memimpin daerah ini. Juga paling penting adalah program kerjanya nanti jika kelak terpilih jadi wali kota yang kita cintai ini. Walaupun pengamatan saya dibeberapa daerah kepala daerah yang terpilih kadang melewatkan visi dan misinya. Tapi, setidaknya pada saat mencalonkan sebagai wali kota ada gambaran yang akan dilakukannya nanti terpilih. Jadi, marilah selaku warga kota Kendari turut aktif dan selektif untuk menilai pemimpin yang layak mempimpin Kendari kedepan. Jangan karena balihonya banyak, se-suku, serangan fajarnya banyak dan kerabat dekat sehingga membutakan hati. Apapun tetap akan memilih dia. Ingat salah memilih, maka masyarakat sendiri yang akan rugi.

Terkait perkataan tentang serangan fajar atau bahasa kasarnya pembelian suara melalui duit tentu sebenarnya melanggar undang-undang. Cara ini juga termasuk haram karena termasuk menyuap dan sogokan. Oleh sebab itu, biasanya ketika salah satu dari calon kalah dalam Pilkada, biasanya yang permasalahkan di MK tentang politik uang. Tapi harus jujur hal seperti ini masih banyak terjadi, termasuk di Sultra. Di Kota Kendari juga demikian, padahal SDM dan pendapatanya rata-rata menengah keatas. Tapi masih juga terjadi hal seperti ini. Walaupun tidak seberapa yang mungkin sehari atau dua hari itu semua habis, tetapi semua bisa berpengaruh sedikit signifikan terhadap suara. Tapi itulah realita politik. Dinamika seperti ini sudah lumrah terjadi. Segala sesuatunya dapat terjadi karena kepentingan. Semua calon sudah mengetahui dan mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Itu sudah menjadi resiko dari panggung politik.

penulis

penulis

Publik berharap, Pilwali nantinya dapat berjalan secara demokratis, jujur dan adil. Sudah menjadi tugas dari penyelenggaranya yang telah diamanahkan oleh undang-undang yakni KPU Kota Kendari selaku penyelenggara Pilwali untuk menyukseskan itu. Penyelenggara yang baik dan profesional bakal berdampak dan berkontribusi, baik terhadap demokrasi Kota Kendari maupun pemimpin yang dihasilkan. Sebaliknya, jika pelaksanaan Pilwali penuh dengan aroma kecurangan, money politik maka hasilnya juga tidak akan maksimal. Malah dapat menyulut api konflik sosial di masyarakat, sehingga akan berdampak buruk pada daerah. Oleh sebab itu, meskipun masih lama Pilwali digelar, harapannya penyelenggara bisa menyiapkan diri dengan baik. Publik juga berharap, siapapun wali kota terpilih nantinya, harus punya komitmen sama untuk lebih maju dan dapat bersaing dengan kota-kota besar lain di Indonesia. Makanya, mulai sekarang juga publik harus selektif menilai program- program ditawarkan, latar belakang, kepribadian dan akhlak calon wali kota nantinya tersebut. Minimal, mengetahui sedikit tentang apa saja yang berhubungan dengan calon wali kota bersangkutan. Ini penting untuk menguatkan hati yakin bahwa itulah pilihan terbaik untuk Kendari kedepan.

Dalam penilaian itu tidak ada landasan suku dan sebagainya. Siapapun dia, selama tujuannya dan punya komitmen membangun kota ini, maka harus didukung. Andaipun misalnya semua calon memiliki visi tersebut, maka boleh dilihat latar belakangnya. Bagaimana dia berbuat saat menduduki posisi tertentu. Lihat juga sepak terjangnya. Karena semua itu akan sangat menentukan, bagaimana kota ini dikelola nantinya. Prinsipnya, mari selektif memilih pemimpin. Supaya tidak menyesal lima tahun setelahnya. (*)

*Penulis adalah Pemerhati Politik Sultra

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top