LGBT, Buah Sistem Liberal – Kendari Pos Online
Iklan DPRD Iklan LA
Opini

LGBT, Buah Sistem Liberal

lgbt

[dropcap]Adanya[/dropcap] pengesahan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian Amerika oleh Mahkamah Agung Amerika dengan dukungan penuh presiden Obama pada tanggal 26 Juni 2015 lalu, menjadikan komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) menyeruak tumbuh. Dua hari setelahnya, mereka merayakan hari Gay sedunia dengan melakukan parade LGBT dengan mengibarkan bendera pelangi sebagai symbol LGBT. Tampak pula beberapa artis Indonesia turut andil di dalamnya. Keturutsertaan mereka menggambarkan sebagai pengikut serta mendukung LGBT ini.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Di negeri yang juga memiliki sistem serupa dengan Amerika ini (Liberalisme), pengikut LGBT mulai terang-terangan mendeklarasikan dirinya. Walaupun di Indonesia tak ada pengakuan tegas terhadap kaum LGBT ini, namun pihak-pihak terkait maupun mendukung mulai angkat bicara. Ade Armando (Pimpinan redaksi Mediaonline sekaligus dosen FISIP UI) mengatakan jumlah mereka yang jatuh cinta sesama jenis tidaklah sedikit.

Kalau di masa lalu mereka tidak terlihat, itu barangkali karena masih kuatnya kebencian terhadap kehadiran  LGBT. Tapi begitu ada suasana psikologis masyarakat yang lebih rileks, mereka berani hadir ke depan. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya ada cukup banyak orang  yang memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama jenis. Mereka begitu saja jatuh cinta. Dengan kata lain, mereka jatuh cinta secara alamiah. Begitu kira-kira isi tulisan Ade di Mediaonline.id. Tidak hanya pada orang dewasa, LGBT bahkan sudah menyeruak di kalangan anak-anak. Adanya akun @gaykids_bot*** yang mana pengikutnya menembus 3.032 orang, menunjukkan bahwa LGBT telah menyerang sejak dini. Anak-anak yang masih polos ini latah dengan perilaku seksual menyimpang ini.

Kepala Divisi Sosialisasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda mengatakan bahwa pihaknya menemukan adanya propaganda homoseksual melalui akun tersebut. Dia mengatakan akun tersebut menampilkan foto dan video seksual yang tidak layak dilihat dan ditujukan untuk menggaet anak remaja untuk mendalami perilaku seks menyimpang. Kami sangat mengutuk apa yang telah di share akun @gaykids_bot***. Akun ini bersifat pornografi yang ditujukan untuk mengajak anak remaja menjadi homo. foto dan video seksual yang tidak layak dilihat itu dikatakan Erlinda melanggar UU No 44/2008 tentang Pornografi.

BACA JUGA :  Pentingnya Operasi Lalu Lintas

Tidak hanya di jejaring social maupun kehidupan umum, di dunia pendidikan pun khususnya kampus-kampus, kelompok LGBT mulai mendapatkan perhatian khusus. Di Universitas Indonesia misalnya, adanya kelompok Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) menawarkan konseling bagi kelompok LGBT. Walaupun melalui pernyataan resmi di laman UI Update, Kantor Humas dan KIP UI menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak berizin dan tidak berkaitan apa pun dengan UI. Namun, kelompok ini tetap saja menawarkan jasa konseling bagi LGBT.

Nampaknya memang bagus, namun hal ini justru memberikan dampak negative, yakni membuat kelompok LGBT merasa mendapatkan perhatian di kalangan masyarakat dengan diterimanya mereka sebagai perilaku yang alamiah. Bahkan, kini telah hadir beberapa aplikasi software untuk memfasilitasi para LGBT ini mencari pasangannya. Aplikasi-aplikasi yang muncul ini memberikan peluang besar tumbuh suburnya LGBT, bahkan seolah-olah telah di program secara sistematis oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Tidak mengherankan memang, ketika kasus LGBT ini kita kaitkan dengan adanya kebebasan yang di anut oleh masyarakat Indonesia. Dengan asas liberalismenya, Indonesia terlihat payah dalam menahan arus LGBT ini. Bukannya diberi tindakan hukum tegas, malah yang ada hanya terjadi pro-kontra di berbagai pihak. Kebebasan berperilaku yang termaktub dalam system liberal ini sudah menjadi jawaban akan banyaknya penyimpangan-penyimpangan terjadi, tak terkhusus bagi kelompok LGBT. Bahkan beberapa pihak menyatakan bahwa perilaku dari kelompok LGBT ini adalah hal yang alamiah. Padahal tak ada satupun bukti memberikan penjelasan tepat bahwa LGBT adalah sifat alamiah atau dari kelainan gen, melainkan perilaku ini adalah tindak penyimpangan seksual. Ada banyak faktor menyebabkan seorang pria menjadi gay atau penyuka sesama jenis.

BACA JUGA :  Sarjana : Pencari Kerja atau Pencipta Kerja?

Menurut psikolog Elly Risman Musa, faktor pemicu itu di antaranya adalah ia berada di lingkungan di mana homoseksual dianggap sesuatu yang biasa atau umum. Karena tidak ada nilai-nilai moral atau agama yang membekali pengetahuannya sehingga ia memiliki wawasan tidak lurus mengenai hubungan antara pria dan wanita.

Seseorang dapat tumbuh menjadi seorang gay karena pengalaman buruk dengan pengasuhan keluarga seperti memiliki ibu yang dominan sehingga anak tidak memperoleh gambaran sosok ayah atau sebaliknya. Faktor lain yang mungkin membuat seseorang keluar dari fitrahnya adalah pengalaman seks dini, yang disebabkan karena menyaksikan gambar-gambar porno dari televisi, DVD, Internet, komik ataupun media lain di sekitarnya. Dan media pun memberikan kebebasan atas hal ini.

Atas dasar kebebasan berpendapat, media dengan mudah mengeksplorasi berbagai hal, tidak peduli apakah hal tersebut baik maupun buruk dari berbagai sudut pandang. Di dalam Islam sendiri telah jelas, bahwa hikmah penciptaaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah untuk kelestarian jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya (QS. an-Nisa [4]: 1). Perilaku seks menyimpang seperti homoseksual, lesbianisme dan seks diluar pernikahan berlawanan dengan tujuan penciptaan tersebut. Islam dengan tegas melarang semua perilaku seks yang menyimpang dari syariah itu. Islam melarang laki-laki bergaya atau menyerupai perempuan, dan perempuan bergaya atau menyerupai laki-laki. Islam memandang homoseksual sebagai tindak kejahatan besar. Pelakunya akan dijatuhi sanksi yang berat.

BACA JUGA :  Pentingnya Ekstrakurikuler Pada Satuan Pendidikan

Nabi SAW Bersabda: Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth as. maka bunuhlah pelaku dan pasangan (kencannya)” (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah). Dengan sanksi itu, orang tidak akan berani berperilaku homoseksual. Masyarakat pun bisa diselamatkan dari segala dampak buruknya. Itulah gunanya negara, melakukan upaya perlindungan aqidah dan akhlak warganya, menerapkan hukum yang tegas, jelas dan memberikan efek jera pada pelakunya agar penyimpangan-penyimpangan tidak merambah luas. Lebih spesifik lagi, kita bicara lingkup Sulawesi Tenggara (Sultra).

penulis

penulis

Sejauh ini memang belum terlihat terang-terangan keberasaan mereka (LGBT). Hanya saja, fenomen orang-orang seperti ini pasti ada. Kemungkinan karena masyarakat belum sepenuhnya siap menerima, sehingga mereka masih menahan diri untuk muncul kepermukaan. Mungkin hal ini bisa menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah (Pemda) untuk mengantisipasi sejak dini, dengan membuat regulasi ketat soal itu. Masyarakat juga diharapkan tidak apatis. Jangan sampai sudah terjadi baru menyesal. Ingat, masa depan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bertanah air terancam jika LGBT ini menjamur. Bukan hanya saat ini, tapi juga generasi masa depan. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UHO

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Iklan Catur
To Top