Kerjasama Memberikan Nilai Positif – Kendari Pos Online
Opini

Kerjasama Memberikan Nilai Positif

guru-yang-baik

Guru juga manusia. Dia merupakan mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang dibekali akal dan pikiran. Hanya bedanya, guru punya tangungjawab lebih besar dibanding yang lain. Guru bertanggungjawab untuk menciptakan manusia berkarakter, berbangsa dan bernegara. Istilah lain adalah guru merupakan sosok manusia yang tugasnya memanusiakan manusia. Artinya, mendidik manusia dari sifat buruk menjadi baik. Guru memainkan peranan penting dalam pengembangan dan pertumbuhan anak-anak bangsa.

Begitupun juga dengan orang tua siswa adalah manusia ciptaan Tuhan sama dengan guru yang diberikan akal dan pikiran. Dia juga mempunyai tugas membimbing, mengarahkan dan mengajarkan baiknya hidup berdampingan dengan sesama. Begitupun juga anak adalah amanah untuk orang tua yang harus diarahkan, diajarkan mana putih dan mana  hitam.

Pada umumnya, di sekolah guru adalah pengganti sementara orang tua di rumah. Tentunya, dalam hal ini guru dan orang tua siswa haruslah bekerjasama dalam hal mendidik anak-anak, supaya bisa menjadi generasi penerus bangsa. Peran guru dan orang tua sangatlah penting di tengah-tengah kehidupan mereka, misalnya walaupun guru di sekolah memberikan pelajaran kepada anak itu. Boleh dikatakan bahwa jam tatap muka guru dan anak (siswa-siswi) itu kurang lebih hanya 7 jam, selebihya itu mereka berada di rumah bersama orang tua masing-masing. Penelitian menunjukan bahwa ketika guru dan orang tua bekerja sama untuk memberikan pendidikan yang baik pada anak-anak, hasil yang dicapai lebih baik.

Mental dan karakternya teruji, sehingga turut membantu karirnya. Sudah banyak contoh, betapa anak-anak yang bagus dibina sejak kecil. Baik di lingkungan sekolah maupun di rumah , setelah besar dia berhasil dalam karir. Bukan hanya itu, ketika misalnya diberi amanah untuk menduduki jabatan tertentu, dia pasti menjalankan tanggungjawab itu dengan sebaik-baiknya. Jauh dari perilaku culas dan korup. Baik buruknya nasib bangsa ini kedepan, tergantung bagaimana guru dan orang tua menyiapkan generasi penerus.

Tentunya dalam hal ini sangatlah penting guru dan orang tua siswa saling bekerjasama dalam dunia pendidikan, supaya bisa menghasilkan generasi muda penerus bangsa berkarakter. Teringat jaman dulu, ketika saya masih sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD). Kala itu, ada guru saya yang berinisial GR. Kala itu kami masih kelas V. Pernah suatu saat, kami diberi tugas menghafal kali-kali (perkalian). Waktu itu diberi waktu dua minggu. Dari 16 murid, hanya dua orang tidak bisa menghafal. Lalu dua orang teman saya itu dihukum dengan hukuman pukulan di betis. Membandingkan pendidikan dengan jaman sekarang, kelas VII SMP mungkin hanya dua atau tiga siswa saja yang dapat menghafal kali-kali. Sementara, jaman dulu siswa SD itu sudah dapat menghafal kali-kali. Lantas siapa yang patut disalahkan dalam hal ini?

Hal lain yang juga membuat miris adalah belum lama ini ada pemberitaan di media yang membuat geleng-geleng kepala. Judulnya kalau tidak salah begini: Akibat Mencukur Rambut Murid, Oknum Guru Dipolisikan. Kondisi ini mencerminkan bahwa orang tua murid tidak bekerjasama dengan guru dalam hal pelaksanaan aturan atau tata tertib yang ditetapkan pihak sekolah. Mestinya, hal semacam itu tidak perlu terjadi. Ingat, apapun yang dilakukan guru terhadap siswa, pada prinsipnya untuk kebaikan siswa itu sendiri. Tujuan tentu supaya lebih disiplin, belajar lebih giat dan paling penting menghargai setiap aturan sekolah.

Tentunya dalam kerapian itu bukan hanya pakaian saja yang diperhatikan, rambut juga mesti dipotong bagus supaya kelihatan rapi. Sebab, bagaimanapun cara berpakaian itu mencerminkan karakter sesorang. Pada hakekatnya, guru dan orang tua dalam pendidikan yang mempunyai tujuan sama. Yakni mengasuh, mendidik, membimbing, membina serta memimpin anak menjadi orang dewasa. Endingnya, supaya bisa memperoleh kebahagiaan hidupnya dalam arti yang seluas-luasnya. Hal ini sebagai penunjang pencapaian visi bangsa Indonesia berdasarkan ketetapan MPR RI Nomor IV tahun 2004 tentang GBHN (1996:66).

Dalam dunia pendidikan dapat diibaratkan seperti tangan kanan dan tangan kiri. Juga seperti kaki kanan dan kaki kiri. Contoh sederhana dari analogi ini adalah bahwa ketika manusia mengerjakan sesuatu pekerjaan, tapi hanya menggunakan satu tangan, pasti hasilnya tidak akan maksimal. Bukan hanya itu, saat mengerjakannya juga pasti terasa berat. Lain halnya, kalau menggunakan dua tangan, pasti lebih baik. Begitupun juga dengan kaki, apabila manusia berjalan dengan satu kaki saja, maka sudah pasti orang itu terlihat pincang jalannya. Disini digambarkan seperti guru dan orang tua tanpa kerjasama yang baik. Hasilnya akan minim dibandingkan kalau guru dan orang tua bekerjasama di dalam dunia pendidikan tentunya hasilnya akan optimal.

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah atau guru, orang tua murid, masyarakat dan pemerintah. Dengan demikian semua pihak yang terkait harus senantiasa menjalani hubungan kerja sama dan interaksi dalam rangka menciptakan kondisi belajar yang sehat bagi para murid. Meskipun demikian, bukan berarti bantuan pendidikan yang diberikan dari pihak sekolah kepada anak adalah berkebutuhan khusus yang menjadi tanggungjawab sepenuhnya, terutama para guru. Sebab kewajiban sekolah atau guru hanyalah membantu orangtua dalam mendidik anak. Yang memiliki peran penting dalam melaksanakan pendidikan kepada sang anak tetaplah orangtua.

penulis

penulis

Interaksi semua pihak yang terkait akan mendorong murid untuk senantiasa melaksanakan tugasnya sebagai pelajar. Yakni, belajar dengan tekun dan bersemangat. Dari situ kita bisa menarik kesimpulan bahwa pada dasarnya orangtua haruslah lebih berperan aktif dalam mengembangkan pendidikan dan pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Mengapa demikian? Karena orang tua adalah orang terdekat bagi anak-anaknya sehingga mereka bisa lebih memahami anaknya sendiri, dengan menggunakan ikatan batin atau perasan yang mereka miliki. (*)

*Guru Honor SMPN 2 Wonggeduku dan dosen tetap yayasan (DTY) Universitas Lakidende

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top